Tampilkan postingan dengan label POPULER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POPULER. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2026

JANGAN HANGUSKAN PAHALA PUASA


Oleh: KH Abdul Hamid Husain*

Seperti EMBER BOCOR, tidak dapat menampung air, air terus tumpah.

Sudah capek berlapar lapar puasa, sayang pahalanya tumpah tak tersisa karena yang puasa hanya perut. Padahal, puasa Ramadhan tidak hanya perut, tapi hati, pikiran dan semua raga ikut berpuasa.

TRUE STORY:

1. Mereka yang sudah meninggal dan  berada di Kubur sangat amat mendambakan ingin lagi bisa mengalami bulan Ramadhan walau hanya sehari saja:

تالله لو قيل لأه‍ل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان (من كلمات الامام ابن الجوزى)

Arti: “Demi Allaah, seandainya para penghuni Kubur ditanya: “Apa yang paling mereka inginkan ?”,  "Sungguh, mereka pasti menjawab, bahwa mereka mendambakan bisa berada di bulan Ramadhan walaupun hanya sehari saja” (Al Imam Ibnul Jauzi, Kitab At-Tabshirah 2/78).

2. Jangan Hanya Perut Yang Berpuasa Tetapi Hati, Pikiran,  Pendengaran dan Penglihatan juga harus Berpuasa: Sahabat Jabir Bin Abdillah RA menuturkan:

إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَآثِمِ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ، ولْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً.

Arti; "Apabila engkau berpuasa maka berpuasa pulalah:  pendengaran, penglihatan, dan  lisanmu dari ucapan dusta, bohong dan berbagai kemungkaran lainnya. Dan jauhilah perbuatan zalim terhadap para pekerjamu, pegawaimu, pembantu dan pelayanmu. Menjalankan ibadah puasa wajib untuk selalu bersikap tenang, damai dan tidak tergesa gesa, tidak terburu-buru.  Dan jangan jadikan hari tidak berpuasa sama dengan hari  berpuasamu ". (Mushannaf lbni Abi Syaibah no 8973).

3. Allaah SWT Berfirman Melarang keras Bergunjing,  saling melecehkan, saling olok  dan saling merendahkan;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ (الحجرات. ٤٩ الاية ١١)

Arti: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan perempuan mengolok-olok perempuan lain karena  boleh jadi perempuan yang diolok-olok itu lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok itu. Janganlah kalian  saling mencela, merendahkan, melecehkan dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim". (QS Al Hujuraat, surah ke 49, ayat 11, halaman 516).

POINTERS:

1. Lidah Yang Menggunjing, Membuang Buang Pahala Puasa:

اللِّسَانُ المَشْغُولُ بِالغِيبَةِ غَالِبًا مَا يَنْسَى كَيْفِيَّةَ تَقْيِيمِ نَفْسِهِ

Arti: "Lidah yang sibuk dengan menggunjing, ghiibah, akan lupa bagaimana mengatur dan menyelamatkan dirinya sendiri"

2. Berhenti Menggunjing adalah langkah pertama menuju ketenangan lahir batin yang sejati.

3. Rasuulullaah SAW Bersabda :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ. (رواه احمد)

Arti: "Wahai orang  orang yang Imannya masih sebatas lisannya dan belum masuk ke hati, janganlah kalian menggunjing orang orang Muslim, janganlah kalian mencari cari aib dan kekurangan mereka. Karena siapa yang selalu mencari cari kekurangan dan kesalahan mereka, maka Allaah akan membongkar kesalahannya, serta siapa yang diungkap aibnya oleh Allaah, maka Dia akan memperlihatkannyaaibnya di rumahnya. (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Ahmad).

Penutup: 

Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك 

(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa). "Yaa Allaah Tuhanku,  Bimbinglah kami untuk selalu eling  mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"

____________________________________

* Penulis KH Abdul Hamid Husain adalah Alumnus Ummul Qura University, Makkah, King Abdulaziz University, Jeddah dan PMD Gontor, Ponorogo. dan pengasuh Alhusniyah Islamic Boarding School: (Kampus 1, 2 & 3: PAUD, TK, SD, SMP, SMA, TPQ dan MDTA)

Kamis, 12 Maret 2026

PUASA SATU HARI, TAPI DAPAT PAHALA PULUHAN PUASA


Oleh : KH Abdul Hamid*                                                                                                                       

Ada orang yang berpuasa 1 hari tapi mendapatkan pahala puluhan Puasa. Ini sangat mudah jika mau. Caranya ? Ikuti Anjuran Rasuulullaah SAW sbb.

TRUE STORY:

1. Rasuulullaah SAW Bersabda bahwa orang yang berpuasa dan memberi makan minum untuk berbuka kepada orang yang juga berpuasa, maka Allaah memberikan tambahan pahala untuknya dari pahala semua orang yang ikut berbuka Puasa tanpa mengurangi pahala Puasanya orang yang berbuka itu. 

Pahala tambahan untuk yang menyediakan makanan berbuka Puasa itu, menerima tambahan pahala sebanyak jumlah orang yang ikut berbuka.

Rasuulullaah SAW Bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا . (صحيح رواه  الترمذي )

Artinya: “Siapa yang memberi makanan berbuka Puasa kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala Puasa dari orang orang yang berbuka tanpa mengurangi pahala orang yang berbuka itu sedikitpun.” (Hadits Sahih Riwayah At Tirmizi)

POINTERS:

1. Upayakan bisa memberi minuman dan makanan untuk berbuka Puasa, karena sebanyak yang ikut berbuka, sebanyak itu pulalah tambahan  pahala Puasa yang didapatkan di hari itu.

2. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan Ramadhan, maka manfaatkanlah semaksimal mungkin untuk memperbanyak Puasa dan manasik manasik Ramadhaniyyah lainnya.  Karena di saat yang sama, telah banyaak keluarga, teman, sahabat dan tetangga yang telah meninggal sebelum Ramadhan tiba, sehingga tidak bisa meni'mati indahnya beribadah di bulan Ramadhan.

Mereka yang sudah meninggal dan  berada di Kubur sangat amat mendambakan ingin lagi bisa mengalami bulan Ramadhan walau hanya sehari saja:

تالله لو قيل لأه‍ل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان. (من كلمات الامام ابن الجوزى)

Artinya: “Demi Allaah, seandainya para penghuni Kubur ditanya: “Apa yang paling mereka inginkan”, "Sungguh, mereka menjawab, bahwa mereka mendambakan bisa berada di bulan Ramadhan walau hanya sehari saja”. (Al Imam Ibnul Jauzi, Kitab At-Tabshirah 2/78).

Penutup:

Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك 

(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).

"Yaa Allaah Tuhanku,  Bimbinglah kami untuk selalu eling  mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"

________________________________________

* Penulis adalah Alumnus:

-Ummul Qura University, Makkah.

-King Abdulaziz University, Jeddah.

-PMD Gontor, Ponorogo

Senin, 02 Maret 2026

HIKMAH PERINGATAN NUZULUL QUR'AN

Oleh : Ma'arif Fuadi

Bulan Ramadan adalah bulan yang berkah sebagaimana sabda Rasululullah saw:

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Artinya : "Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang jahat diikat. Pada bulan itu, Allah memiliki satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang." (HR. Imam Nasai dan Imam Ahmad).

Salah satu keberkahan bulan Ramadhan karena Al-Qur'an diturunkan pada bulan Ramadan ini. Sebagaimana Firman Allah swt di dalam surat Al-Baqarah ayat 185:     

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185)

Proses turunnya Al-Qur'an

1. Al-Qur’an Berasal dari Allah SWT
Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukan ciptaan manusia dan bukan karangan Nabi Muhammad saw. Allah berfirman:
وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Artinya: Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (QS. Asy-Syu‘ara: 192)

2. Diturunkan ke Lauhul Mahfuzh
Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, Al-Qur’an telah tertulis di Lauhul Mahfuzh (Kitab yang terjaga). Lauhul Mahfuzh adalah tempat di mana Allah mencatat seluruh ketetapan-Nya, termasuk Al-Qur’an secara lengkap.

3. Diturunkan ke Baitul ‘Izzah di Langit Dunia
Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus (secara utuh) dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.
Proses ini disebut turun sekaligus
إنا أنزلناه في ليلة القدر

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.” 
(QS. Al-Qadr: 1)

4. Diturunkan Secara Bertahap kepada Nabi Muhammad saw
Setelah itu, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril ‘alaihissalam selama kurang lebih 23 tahun, 13 tahun di Makkah, 10 tahun di Madinah. Allah berfirman:

وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا 

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia.” (QS. Al-Isra: 106)

Hikmah diturunkan Al-Qur'an:

Diantara Hikmah diturunkannya Al-Qur'an adalah :

1. Sebagai petunjuk dalam kehidupan manusia

“Hudan linnas.” Petunjuk bagi manusia. Karena Al-Qur'an sebagai kitab petunjuk maka ayat yang pertama yang ditutunkan bukan perintah shalat, bukan puasa, bukan zakat tetapi perintah membaca. Sebagaimana firman Allah swt di dalam surat al-Alaq dari ayat 1-5:

.اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

Ironisnya, kita merayakan Nuzulul Qur’an setiap tahun. Namun apakah Al-Qur’an benar-benar hidup di rumah kita? Ramadan hari ke 17 ini sudah berapa juz Al-Qur'an yang kita baca ? Mushaf ada, tapi jarang dibuka. Ayat dihafal, tapi belum diamalkan. Tilawah ada, tapi tanpa tadabbur.
Rasulullah saw pernah menyampaikan:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا 

Rasulullah saw (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan. (QS. Al-Furqan: 30)

Bagaimana Al-Qur'an akan menjadi petunjuk dalam kehidupan jika Al-Qur'an tidak pernah dibaca bahkan diabaikan. Jangan sampai kita termasuk yang disebut dalam ayat tersebut.

2. Sebagai pembeda antara hak dan batil

Manusia adalah makhluk mulia sepanjang berpegang kepada Alquran.  Hal ini sejalan dengan prinsip dasar Islam. Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (fi ahsani taqwim) dan diberikan akal untuk membedakan mana yang hak dan batil mana yang haram dan mana yang halal. Manusia yang tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam hidupnya maka mereka seperti binatang bahkan lebih rendah dari binatang. Sebagaimana firman Allah

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah] dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah]. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” ( Al-A’raaf : 179 )

Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup adalah jaminan agar tidak tersesat dalam kehidupan dunia dan akhirat.

3. Sebagai Obat dan Rahmat bagi orang beriman

Yang dimaksud obat pada ayat ini yaitu Al-Qur'an dapat mengobati penyakit non medis, utamanya penyakit hati atau kejiwaan seperti keraguan, kekafiran, kemunafikan, kesyirikan, kebodohan, hawa nafsu, dan hati yang gelisah. Al-Qur’an menyingkirkan syubhat dan penyakit hati dengan ilmu yang yakin, nasihat, dan peringatan. Juga bisa menjadi obat bagi penyakit fisik bila dibacakan sebagai ruqyah (doa atau terapi) dengan keyakinan. Misalnya sakit kepala, sengatan binatang, demam, dan lain-lain. Nabi dan sahabat mencontohkan membaca Al-Fatihah atau ayat-ayat tertentu untuk penyembuhan jasmani. Jadi, dalam tradisi Islam, Al-Qur’an dipakai untuk ruqyah dan dipandang menyembuhkan penyakit medis maupun non-medis, asalkan dengan iman dan syarat yang benar.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا 

Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian (QS. Al-Isra: 82).

Galau, Stres, gelisah, cemas, obatnya bukan hanya hiburan, tetapi kembali kepada Al-Qur’an.

Zaman berubah. Teknologi berkembang. Tantangan semakin kompleks, tetapi Al-Qur’an tetap relevan. Al-Qur'an adalah cahaya. Tanpa cahaya, kita berjalan dalam gelap. Dengan cahaya, kita tahu arah. Hari ini kita lebih sering membuka ponsel daripada membuka mushaf. Waktu untuk scrolling media sosial berjam-jam terasa ringan.Tetapi membaca satu juz terasa berat.

Mari kita menghidupkan Al-Qur’an dalam diri dan keluarga kita dengan membacanya setiap hari. Memahami Maknanya. Mengamalkan Isinya. Seperti Jujur dalam berdagang. Amanah dalam bekerja. Santun dalam berbicara. Mengajarkan kepada Keluarga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

 

Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala


Rumah yang dipenuhi bacaan Al-Qur’an akan dipenuhi ketenangan.

Diriwayatkan dari Abi Hurairoh :

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هَانِئٍ، حَدَّثَنَا حَرْبُ بْنُ شَدَّادٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى هُوَ ابْنُ أَبِي كَثِيرٍ، حَدَّثَنِي حَفْصُ بْنُ عِنَانٍ الْحَنَفِيُّ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، كَانَ يَقُولُ: «إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ، وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ، وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ» قال المحقق إسناده صحيح وهو موقوف على أبي هريرة

Muʿādz bin Hāniʾ menceritakan kepada kami, Ḥarb bin Syaddād menceritakan kepada kami, Yaḥyā—yaitu Ibnu Abī Katsīr—menceritakan kepada kami, Hafṣ bin ʿInān al-Ḥanafī menceritakan kepadaku, bahwa Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya rumah akan terasa lapang bagi penghuninya, malaikat-malaikat hadir di dalamnya, setan-setan menjauh, dan kebaikannya melimpah jika di dalamnya dibacakan Al-Qur’an. Sebaliknya, rumah akan terasa sempit bagi penghuninya, malaikat-malaikat menjauh, setan-setan hadir, dan kebaikannya sedikit bila di dalamnya tidak dibacakan Al-Qur’an.” Al-muḥaqqiq (peneliti sanad) menilai sanadnya sahih, namun hadis ini mauqūf (perkataan) Abu Hurairah (bukan langsung dari Nabi).

Semoga peringatan Nuzulul Qur’an ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, penawar hati, dan sumber rahmat yang benar-benar hidup dalam keseharian kita. 

Semakin kita menyadari betapa pentingnya Al-Qur'an dalam kehidupan kita, semakin tumbuh keinginan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, membacanya setiap hari, memahami maknanya, dan mengamalkannya serta menjadikannya teman setia dalam kehidupan di dunia.

Selasa, 24 Februari 2026

MERAIH LAILATUL QADAR DENGAN I'TIKAF


Salah satu amalan sunnah di sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah memperbanyak i'tikaf di masjid. Hal ini sebagaimana penjelasan dari Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in.

Di bulan Ramadan ada suatu malam di mana setiap amalan ibadah akan lebih baik dari pada ibadah selama seribu bulan. Malam itu disebut Lailatul Qadar, yang disebutkan ada di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Untuk meraih Lailatul Qadar selama 10 hari terakhir Ramadan, beberapa orang biasanya memaksimalkan amal ibadahnya dengan melakukan i’tikaf di masjid. 

Pengertian i’tikaf

Secara terminologi, i'tikaf adalah berdiam diri di masjid disertai dengan niat. Tujuannya adalah semata beribadah kepada Allah, khususnya ibadah yang biasa dilakukan di masjid seperti tadarus Al-Qur’an, kajian keislaman, berdzikir hingga qiyamulail atau shalat malam.  Sebenarnya i’tikaf dapat dilakukan setiap saat, tetapi khususnya di bulan Ramadan i’tikaf lebih dianjurkan. Itikaf di bulan Ramadan dianjurkan terutama di sepuluh malam terakhir.

Dalil i'tikaf 

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menyatakan bahwa i'tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan itu bagaikan beri'tikaf bersama nabi saw.

مَنِ اعْتَكَفَ مَعِيْ فَلْيَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ

Artinya, "Siapa yang ingin beri'tikaf bersamaku, maka beri'tikaflah pada sepuluh malam terakhir"  (HR Ibnu Hibban)

Waktu pelaksanaan

I’tikaf dapat dilakukan setiap saat, termasuk pada waktu-waktu yang diharamkan shalat. Melakukannya pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, lebih utama dibanding pada waktu-waktu yang lain, demi menggapai keutamaan Lailatul Qadar yang waktunya dirahasiakan Allah. Karena dirahasiakan itulah, maka siapa pun perlu mengisi malam-malam Ramdhan dengan berbagai amaliah, baik wajib maupun sunnah, dengan tujuan agar tidak terlewatkan.

Hukum i’tikaf

Hukum asalnya adalah sunnah, tetapi bisa berubah menjadi wajib apabila dinazarkan. Selain itu, hukumnya bisa menjadi haram bila dilakukan oleh seorang istri atau hamba sahaya tanpa izin, dan menjadi makruh bila dilakukan oleh perempuan yang bertingkah dan mengundang fitnah meski disertai izin.

Rukun I’tikaf

Ada empat rukun i’tikaf yang harus dikerjakan di saat melaksanakannya, 

1. Niat
2. Berdiam diri di masjid (sekurang-kurangnya selama tuma’ninah shalat)
3. Dilaksanakan di Masjid, namun di mazhab hanafi bagi perempuan dibolehkan      
    untuk i’tikaf di rumah
4. Orang yang beri’tikaf

Syarat I’tikaf

Syarat orang yang melaksanakan itikaf:

1. Islam
2. Berakal Sehat
3. Bebas dari Hadas Besar (Junub)
Jadi, orang yang melaksanakan itikaf tetapi tidak memenuhi syarat-syarat yang disebutkan di atas, maka dianggap tidak sah. Itikaf di bulan Ramadan membantu kita untuk mengevaluasi diri. Dengan itikaf kita akan berfokus pada diri kita dan menjauhi dari perbuatan dosa.

Keutamaan I’tikaf

Kenapa I’tikaf ini sangat dianjurkan? Karena ada beberapa keutamaan pada saat menjalankannya. Mulai dari memperbanyak pahala hingga mendapatkan malam seribu bulan atau Lailatul Qadar. Berikut ini adalah keutamaan dari menjalankan i’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan.

1. Meraih Lailatul Qadar

Salah satu keutamaan menjalankan amalan itikaf adalah mendapatkan Lailatul Qadar yang dipercaya hadir pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Siapa pun yang mengerjakan amal ibadah di saat lailatul qadar, maka akan mendapatkan pahala yang jumlahnya sama dengan ibadah selama seribu bulan.

Ada hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadis no. 699 tentang permasalahan itikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى  تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam biasa beritikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau di wafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beritikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

2. Mendapat pahala terus menerus

Berdiam diri di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah bisa juga dengan mendirikan shalat, tilawah, zikir, berdoa, bermunajat, tadabbur, tafakur atau mengkaji ilmu. Bahkan dalam kondisi tidur pun, orang yang beritikaf mendapatkan pahala yang besarnya tidak bisa didapatkan oleh orang yang tidur di rumah. Sebab tidurnya itu termasuk rangkaian itikaf.

3. Sunnah Rasul

Itikaf pada 10 hari terakhir Ramadan merupakan sunnah Rasulullah SAW. Bahkan di Ramadan terakhir sebelum wafat, Rasulullah beritikaf selama 20 hari. Demikian pula istri beliau dan para sahabat Nabi. Mereka beritikaf 10 hari terakhir Ramadan. Setelah Rasulullah wafat, istri-istri beliau juga melaksanakan itikaf pada 10 hari terakhir Ramadan. 

Macam-macam i'tikaf dan niatnya

I'tikaf ada tiga macam, yakni:

1. I’tikaf mutlak
Orang yang hendak beri'tikaf cukup berniat sebagai berikut:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ للهِ تَعَالَى

Artinya, "Aku berniat i'tikaf di masjid ini karena Allah"


2. I’tikaf terikat waktu tanpa terus-menerus. Misalnya sehari, semalam penuh, atau selama satu bulan, berikut niatnya:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَوْمًا / لَيْلًا كَامِلًا / شَهْرًا لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya, "Aku berniat i’tikaf di masjid ini selama satu hari/satu malam penuh/satu bulan karena Allah."


3. I’tikaf yang dinazarkan

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

Artinya, "Aku berniat i'tikaf di masjid ini fardhu karena Allah."

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فَرْضًا للهِ تَعَالَى

Artinya, "Aku berniat i'tikaf  di masjid ini selama satu bulan berturut-turut fardhu karena Allah."


Dalam i'tikaf mutlak, apabila seseorang keluar dari masjid tanpa maksud kembali, kemudian kembali, maka harus membaca niat lagi. I'tikaf yang kedua setelah kembali itu dianggap sebagai i'tikaf baru.

Hal ini berbeda bila seseorang memang berniat kembali, baik kembalinya ke masjid semula maupun ke masjid lain, maka niat sebelumnya tidak batal dan tidak perlu niat baru.

Hal-hal yang membatalkan i’tikaf

1. Berhubungan suami-istri
2. Mengeluarkan sperma
3. Mabuk yang disengaja
4. Murtad
6. Haid
7. Nifas
8. Keluar tanpa alasan
9. Keluar untuk memenuhi kewajiban yang bisa ditunda, keluar disertai alasan hingga beberapa kali, padahal keluarnya karena keinginan sendiri

APA ITU MALAM LAILATUL QADAR ?

Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada 1000 bulan yaitu setara dengan 83 tahun lebih 4 bulan. Misalkan, kita membaca satu juz Al-qur'an atau  sholat sunah dua rakaat di waktu malam lailatul qadar. Maka Al-Qur'an yang kita baca satu juz atau shalat dua rokaat yang kita kerjakan di malam Lailatul Qadar itu masih lebih baik daripada kita membaca Al-Qur'an atau sholat dua rokaat selama seribu bulan atau 83 tahun lebih 4 bulan. Padahal umur kita belum tentu mencapai 83 tahun.

Oleh karena itu, banyak sekali yang ingin mendapatkan malam lailatul qadar ini. Kapan malam lailatul qadar ini terjadi? Yang pasti adalah lailatul qadar hanya terjadi pada bulan Ramadhan. Tentang Lailatul Qadar ini diceritakan di dalam Al-Qur'an di surat Al-Qadar.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَام هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) 

Sesungguhnya kami Telah menurunkannya ( AlQuran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qodr) 2.  Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? 
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4.  Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5.  Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Di dalam kitab I’anah Ath Tholibiin syarah dari kitab Fathul Mu’in halaman 290 juz 2 di ceritakan sejarah malam lailatul qadar yang terdapat pada hadist Ibnu ‘Abbas radliyallâhu ‘anhuma bahwasannya diceritakan

وروي عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه: ذكر لرسول الله – صلى الله عليه وسلم – رجل من بني إسرائيل حمل السلاح على عاتقه في سبيل الله ألف شهر فتعجب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لذلك وتمنى ذلك لأمته، فقال: يا رب جعلت أمتي أقصر الأمم أعمارا، وأقلها أعمالا فأعطاه الله تعالى ليلة القدر خيرا من ألف شهر.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliyallâhu ‘anhuma bahwasannya diceritakan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dahulu ada seorang laki-laki dari kaum Bani Israil yang berjuang dalam peperangan dijalan Allah selama 1000 bulan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kagum dan ingin umatnya bisa seperti itu. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kemudian berdo’a, “Wahai Tuhanku! Engkau jadikan umatku sebagai umat yang mempunyai umur yang paling pendek, mempunyai amal ibadah yang paling sedikit.” Kemudian Allah Ta’ala memberikan kepada umat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam malam lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan.

وقيل إن الرجل فيما مضى ما كان يقال له عابد حتى يعبد الله تعالى ألف شهر فأعطوا ليلة إن إحيوها كانوا أحق بأن يسموا عابدين من أولئك العباد

Riwayat yang lain menceritakan, ada seorang laki-laki di zaman dahulu yang memiliki julukan ahli ibadah karena ia beribadah kepada Allah Ta’ala selama 1000 bulan. Maka Allah memberikan kepada umat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam malam lailatul qadar, dan jika malam itu dihidupkan dengan amal ibadah maka ia berhak sebanding dengan ibadah yang dikerjakan oleh ahli ibadah tersebut.

Berikut ini adalah penjelasan tentang apa itu lailatul qadar atau arti lailatul qadar :

وفي حاشية الجمل على الجلالين، وفي القرطبي، قال مجاهد في ليلة الحكم وما أدراك ما ليلة القدر؟ قال: ليلة الحكم

Artinya : Dalam kitab Hâsyiyah al Jamal ‘alâ al Jalâlain dan kitab al Qurthubî disebutkan bahwa telah berkata Syaikh Mujahid mengenai arti dari lailatul qadar, “lailatul qadar artinya malam penentuan.”

والمعنى ليلة التقدير، سميت بذلك لأن الله تعالى يقدر فيها ما يشاء من أمره إلى مثلها من السنة القابلة، من أمرالموت، والأجل، والرزق، وغير ذلك، ويسلمه إلى مدبرات الأمور، وهم أربعة من الملائكة: إسرافيل، وميكائيل، وعزرائيل، وجبرائيل عليهم السلام

“Lailatul qadar artinya malam penentuan. Disebut sebagai malam penentuan karena pada malam itu Allah menentukan semua hal yang akan Ia kehendaki untuk 1 tahun mendatang. Allah menentukan kematian, masa berakhir, rezeki dan yang lainnya pada malam lailatul qadar ini. Kemudian Allah menyerahkan ketentuan-ketentuan itu kepada malaikat-malaikat yang bertugas mengurusinya. Yaitu ada 4 malaikat : Israfil, Mikail, Izrail dan Jibril alaihimus salam.

(قوله: أو الشرف) عطف على الحكم وهو غيره، فهو تفسير آخر للقدر. فمعنى ليلة القدر: ليلة الشرف.وسميت تلك الليلة بذلك لعظمها، وشرفها، وقدرها

Artinya : Atau lailatul qadar artinya malam kemuliaan. Lafadz ini masih berhubungan dengan pengertian sebelumnya (malam ketentuan) dan ini adalah pengertian yang lain (malam kemuliaan). Ini adalah pentafsiran lain dari malam lailatul qadar. Lailatul qadar artinya malam kemuliaan. Disebut sebagai malam kemuliaan karena malam lailatul qadar adalah malam yang agung, mulia dan memiliki tingkatan yang tinggi dibandingkan dengan malam yang lain (lebih baik dari 1000 bulan). I’anah ath Thâlibin Syarh Fath Al Mu’in halaman 289 juz 2.

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Berikut ini adalah hadits yang menjelaskan tentang keutamaan malam lailatul qadar yang merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan :

روي عن سلمان الفارسي – رضي الله عنه – قال: خطبنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في آخر يوم من شعبان، فقال: أيها الناس: قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة القدر، خير من ألف شهر جعل الله تعالى صيامه فريضة، وقيام ليله تطوعا، من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه، ومن أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه، وهو شهر الصبر، والصبر ثوابه الجنة.

Hadist tentang keutamaan malam lailatul qadar ini diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi radliyallalâhu ‘anhu. Bahwasannya Rasulullah shallallâhu ‘alihi wa sallam bersabda pada akhir bulan Sya’ban : “Wahai manusia! Akan datang kepada kalian bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan yang didalamnya terdapat malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah mewajibkan untuk menunaikan ibadah puasa di bulan (Ramadhan) ini dan disunnahkan untuk shalat (Tarawih) di malam harinya. Barang siapa mengerjakan ibadah sunnah maka mendapatkan pahalanya ibadah fardlu. Dan barang siapa memgerjakan ibadah fardlu maka pahalanya 70 kali ibadah fardlu diselain bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kesabaran. Sedangkan sabar pahalanya adalah surga.”

Kapan Malam Lailatul Qadar itu ?
Di dalam kitab Shahih Bukhori disebutkan hadits nabi saw tentang mencari malam lailatul qadar pada hari ganjil di sepuluh hari terakhir

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Abu Suhail] dari [bapaknya] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadlan."

قال الكردي: وكلام الشافعي – رضي الله عنه – في الجمع بين الأخبار يقتضيه، وعليه قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر، فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.
أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين
أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين
أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين
أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين
قال الشيخ أبو الحسن: ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

Imam al Kurdiy berkata : “Imam asy Syafi’i radliyallahu ‘anhu melakukan penelitian riset kapan malam lailatul qadar dengan menggunakan referensi kumpulan hadist yang berhubungan. Imam Al Ghazali dan Ulama-ulama yang lain juga melakukan penelitian tentang kapanmalam lailatul qadar itu. Hasilnya adalah sama, yaitu :

“Sesungguhnya malam lailatul qadar bisa diketahui dari hari yang pertama atau awal bulan Ramadhan :
1. Jika awal bulan Ramadhan adalah hari Ahad atau Rabu, maka malam lailatul      
    qadar terjadi pada malam tanggal 29 Ramadhan.
2. Jika awal bulan Ramadhan adalah hari Senin, maka malam lailatul qadar terjadi 
    pada malam tanggal 21 Ramadhan.
3. Jika awal bulan Ramadhan adalah hari Selasa atau Jum’at, maka malam lailatul 
   qadar terjadi pada malam tanggal 27 Ramadhan.
4. Jika awal bulan Ramadhan adalah hari Kamis, maka malam lailatul qadar terjadi 
    pada malam tanggal 25 Ramadhan.
5. Jika awal bulan Ramadhan adalah hari Sabtu, maka malam lailatul qadar terjadi
    pada malam tanggal 23 Ramadhan.”

Syekh Abul Hasan rahimahullah juga berkata, “Sejak aku berusia dewasa, aku tidak pernah tidak mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan menggunakan kaidah (kaidah untuk menentukan kapankah malam lailatul qadar) ini.” I’anah ath Thâlibin Syarh Fath Al Mu’in halaman 290 juz 2.
Pendapat Imam Syihabuddin Al Qulyubi rahimahullâh tentang kapan malam lailatul qadar itu

قال الشهاب القليوبي في حاشيته على المحلى شرح المنهاج، وقد
نظمتها بقولي: يا سائلي عن ليلة القدر التي * * في عشر رمضان الأخير حلت فإنها في مفردات العشر * * تعرف من يوم ابتداء الشهر فبالأحد والأربعاء: التاسعة، * * وجمعة مع الثلاثا: السابعه وإن بدا الخميس: فالخامسة، * * وإن بدا بالسبت: فالثالثة وإن بدا الاثنين فهي الحادي * * – هذا عن الصوفية الزهاد وقد رأيت قاعدة أخرى تخالف هذه، وقد نظمت فلا حاجة لنا في الإطالة بها.

Imam Al Qulyubi rahimahullah berkata, “Malam lailatul qadar bisa diketahui dari hari pertama bulan Ramadhan. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Ahad atau Jum’at maka malam lailatul qadar terjadi pada malam tanggal 29. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Jum’at atau Selasa maka maka malam lailatul qadar terjadi pada malam tanggal 27. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Kamis maka maka malam lailatul qadar terjadi pada malam tanggal 25. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Sabtu maka maka malam lailatul qadar terjadi pada malam 23. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Senin maka maka malam lailatul qadar terjadi pada malam tanggal 21. Kaidah malam lailatul qadar ini berasal dari Ulama’-Ulama’ Sufi yang Zuhud.”

قوله وقد رأيت قاعدة أخرى: وقد نظمها بعضهم بقوله: وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة * * ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر وإن كان يوم السبت أول صومنا * * فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر وإن هل يوم الصوم في أحد فذا * * بسابعة العشرين ما رمت فاستقر وإن هل بالاثنين فاعلم بأنه * * يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد * * على خامس العشرين تحظى بها فادر وفي الأربعا إن هل – يا من يرومها – * * فدونك فاطلب وصلها سابع العشري ويوم الخميس إن بد الشهر فاجتهد * * توافيك بعد العشر في ليلة الوتر

“Dan aku juga melihat kaidah yang lain yang berbeda dari kaidah ini. Tapi aku tidak membutuhkan kaidah yang lain itu. Kaidah yang lain itu adalah:
1. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Jum’at maka lailatul qadar jatuh 
    pada malam tanggal 29 Ramadhan.
2. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Sabtu maka lailatul qadar jatuh 
    pada malam tanggal 21 Ramadhan.
3. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Ahad maka lailatul qadar jatuh 
    pada malam tanggal 27.
4. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Senin maka lailatul qadar jatuh 
    pada malam tanggal 29.
5. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Selasa maka lailatul qadar jatuh
    pada malam tanggal 25.
6. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Rabu maka lailatul qadar jatuh 
    pada malam tanggal 27.
7. Jika hari pertama bulan Ramadhan adalah hari Kamis maka lailatul qadar jatuh 
    pada malam tanggal-tanggal yang ganjil pada 10 hari terakhir di bulan    
    Ramadhan (tidak ditentukan tanggalnya).”

وفي التحفة ما نصه: وحكمة إبهامها في العشر: إحياء جميع لياليه، وهي من خصائصنا، وباقية إلى يوم القيامة، والتي يفرق فيها كل أمر حكيم.

Dalam kitab at Tuhfah imam al Qulyubiy rahimahullâh berkata, “Ada hikmah dari disembunyikannya malam lailatul qadar ini diantara 10 malam yang terakhir di bulan Ramadhan. Hikmah itu adalah supaya menghidupkan semua malam di bulan suci Ramadhan (tidak hanya ketika malam lailatul qadar saja). Malam lailatul qadar adalah keistimewaan kita. Dan malam lailatul qadar akan tetap ada sampai hari Kiamat. Dan di malam lailatul qadar inilah setiap sesuatu ditentukan oleh Allah yang Maha Bijaksana.” I’anah ath Thâlibin Syarh Fath Al Mu’in halaman 291 juz 2.


Malam Lailatul Qadar Jam Berapa ?

Malam lailatul qadar terjadi pada semua waktu yang terdapat di malam lailatul qadar itu sendiri. Tidak ada batasan jam berapa sampai jam berapa. Mulai waktu malam dan berakhir waktu pagi atau dengan kata lain adalah mulai dari waktu sholat maghrib sampai dengan waktu sholat shubuh.

أن المعتمد في ليلة القدر أنها تلزم ليلة بعينها

Artinya : “Sesungguhnya pendapat yang dijadikan landasan tentang malam lailatul qadar adalah malam lailatul qadar ditetapkan selama 1 malam secara keadaannya.” I’anah ath Thâlibin Syarh Fath Al Mu’in halaman 105 juz 2.

Ciri Ciri Malam Lailatul Qadar

Ciri-ciri malam lailatul qadar terdapat pada keterangan kitab I’anatuth Tholibin juz 2 halaman 291 :

وعلامتها أنها معتدلة، وأن الشمس تطلع صبيحتها، وليس لها كثير شعاع، لعظيم أنوار الملائكة الصاعدين والنازلين فيها، وفائدة ذلك معرفة يومها: إذ يسن الاجتهاد فيه – كليلتها

Artinya :”Ciri-ciri malam lailatul qadar yaitu malam lailatul qadar ditandai dengan suasana yang seimbang (mu’tadilah). Angin berhembus sepoi-sepoi dan terasa damai. Kemudian dipagi harinya matahari bersinar redup, tidak begitu silau dimata. Hal ini dikarenakan terlalu banyaknya malaikat yang naik ke langit dan turun ke bumi pada malam lailatul qadar.”
“Oleh karena itu, dipagi hari setelah malam lailatul qadar juga masih disunnahkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah seperti halnya pada malam lailatul qadar.”

Doa Malam Lailatul Qadar

Berikut ini adalah doa ketika malam lailatul qadar. Doa ini dibaca ketika kita menduga malam Ramadhan yang kita temui adalah malam lailatul qadar. Berikut ini doa malam lailatul qadar yang dibaca :

اَللّٰهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ ( ١×)
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَ الْعَافِيَةَ وَ الْمُعَافَةَ فِي الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ الْأٓخِرَةِ    (١×)
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
( ×٣ )
Demikian ulasan tentang malam lailatul qadar, semoga bermanfaat.
_______________________
Sumber: https://www.piss-ktb.com/2012/02/456-keajaiban-lailatul-qodar.html

Jumat, 14 Juli 2023

BAGAIMANA SEBAIKNYA CARA KITA MENDOAKAN SESEORANG ?

Saat ini keberadaan media sosial membawa pengaruh besar terhadap cara kita dalam menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan seseorang. Kita bisa terhubung dengan siapapun, baik dengan orang yang kita kenal maupun orang yang tidak dikenal, bisa saling berkomunikasi dimanapun tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu sepanjang tersedia perangkat media sosial dan jaringanya.

Salah satu fenomena yang muncul saat ini adalah mendoakan seseorang melalui plat form media sosial semacam WA, FB, IG, Twitter dan lain-lain yang kemudian dishare ke komunitasnya atau bahkan ke publik. Lalu bagaimana pandangan ajaran Islam terhadap fenomena ini ?

Agama Islam mengajarkan bahwa mendoakan sesama muslim semisal guru, murid, teman, sahabat, tetangga dan lain-lain hukumnya adalah sunah. Doa tersebut dipanjatkan kepada Allah swt dengan ikhlas dan tulus agar sesama muslim yang didoakan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Nabi Muhammad saw dalam beberapa haditsnya menjelaskan bahwa ketika kita mendoakan seseorang sebaiknya tanpa sepengetahuan orang yang dido’akan. Karena doa yang dipanjatkan oleh seseorang untuk orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dido’akan itu adalah jenis doa yang mustajabah yaitu doa yang langsung sampai kepada Allah sehingga lebih mudah untuk dikabulkan. Sebagaimana sabdanya :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuan (orang yang didoakan itu) adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan; amin dan mendoakan semoga kamu juga mendapatkan kebaikan seperti itu.’’ (HR. Muslim).

Adapun alasan mengapa doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah swt adalah sebagai berikut:

Pertama, karena diamini oleh malaikat. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

إذا دعا المسلم لأخيه بظهر الغيب قال الملك آمين ولك بمثله

Artinya: “ Apabila seorang muslim mendoakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya, malaikat berkata; amin dan (mendoakan) semoga kamu juga memperoleh seperti doa yang kau panjatkan untuk saudaramu” (HR Muslim). 

Kedua, karena doa seperti itu menunjukkan keikhlasan dan tiadanya riya’ dalam diri si pendoa. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Al-Munawi dalam Faidhu al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, (Dar al-ma’rifah: Beirut, 1972), Cetakan II, Jilid 3, hal. 527 sebagai berikut: 

لان الدعاء السر اقرب الى الاخلاص وابعد من الرياء 

Artinya: “Karena sesungguhnya doa yang dipanjatkan secara rahasia paling dekat kepada keikhlasan dan paling jauh dari sikap riya’.”

Ketiga, karena doa seperti itu memiliki kekuatan 70 kali lipat dari pada doa yang diketahui oleh publik khususnya orang yang didoakan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Anas radhhiallahu 'anhu sebagai berikut:

دعوة السر تعدل سبعين دعوة في العلانية

Artinya, “Satu doa yang dirahasiakan sebanding dengan 70 doa yang terbuka (tidak dirahasiakan).” 

So, berdasarkan hadits-hadits di atas, jika mendoakan orang lain sebaiknya tidak usah bilang-bilang ya, dan tidak usah dishare di medsos kecuali untuk kondisi-kondisi tertentu seperti untuk memotivasi, menghibur dan menyemangati orang yang sedang sakit.

Sumber : NU Online