Tampilkan postingan dengan label POPULER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POPULER. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juli 2023

BAGAIMANA SEBAIKNYA CARA KITA MENDOAKAN SESEORANG ?

Saat ini keberadaan media sosial membawa pengaruh besar terhadap cara kita dalam menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan seseorang. Kita bisa terhubung dengan siapapun, baik dengan orang yang kita kenal maupun orang yang tidak dikenal, bisa saling berkomunikasi dimanapun tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu sepanjang tersedia perangkat media sosial dan jaringanya.

Salah satu fenomena yang muncul saat ini adalah mendoakan seseorang melalui plat form media sosial semacam WA, FB, IG, Twitter dan lain-lain yang kemudian dishare ke komunitasnya atau bahkan ke publik. Lalu bagaimana pandangan ajaran Islam terhadap fenomena ini ?

Agama Islam mengajarkan bahwa mendoakan sesama muslim semisal guru, murid, teman, sahabat, tetangga dan lain-lain hukumnya adalah sunah. Doa tersebut dipanjatkan kepada Allah swt dengan ikhlas dan tulus agar sesama muslim yang didoakan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Nabi Muhammad saw dalam beberapa haditsnya menjelaskan bahwa ketika kita mendoakan seseorang sebaiknya tanpa sepengetahuan orang yang dido’akan. Karena doa yang dipanjatkan oleh seseorang untuk orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dido’akan itu adalah jenis doa yang mustajabah yaitu doa yang langsung sampai kepada Allah sehingga lebih mudah untuk dikabulkan. Sebagaimana sabdanya :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuan (orang yang didoakan itu) adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan; amin dan mendoakan semoga kamu juga mendapatkan kebaikan seperti itu.’’ (HR. Muslim).

Adapun alasan mengapa doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah swt adalah sebagai berikut:

Pertama, karena diamini oleh malaikat. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

إذا دعا المسلم لأخيه بظهر الغيب قال الملك آمين ولك بمثله

Artinya: “ Apabila seorang muslim mendoakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya, malaikat berkata; amin dan (mendoakan) semoga kamu juga memperoleh seperti doa yang kau panjatkan untuk saudaramu” (HR Muslim). 

Kedua, karena doa seperti itu menunjukkan keikhlasan dan tiadanya riya’ dalam diri si pendoa. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Al-Munawi dalam Faidhu al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, (Dar al-ma’rifah: Beirut, 1972), Cetakan II, Jilid 3, hal. 527 sebagai berikut: 

لان الدعاء السر اقرب الى الاخلاص وابعد من الرياء 

Artinya: “Karena sesungguhnya doa yang dipanjatkan secara rahasia paling dekat kepada keikhlasan dan paling jauh dari sikap riya’.”

Ketiga, karena doa seperti itu memiliki kekuatan 70 kali lipat dari pada doa yang diketahui oleh publik khususnya orang yang didoakan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Anas radhhiallahu 'anhu sebagai berikut:

دعوة السر تعدل سبعين دعوة في العلانية

Artinya, “Satu doa yang dirahasiakan sebanding dengan 70 doa yang terbuka (tidak dirahasiakan).” 

So, berdasarkan hadits-hadits di atas, jika mendoakan orang lain sebaiknya tidak usah bilang-bilang ya, dan tidak usah dishare di medsos kecuali untuk kondisi-kondisi tertentu seperti untuk memotivasi, menghibur dan menyemangati orang yang sedang sakit.

Sumber : NU Online


Sabtu, 11 September 2021

REFLEKSI 76 TAHUN HUT RI

Tahun ini kita memperingati HUT RI ke 76 dengan tema Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh. Peringatan HUT RI tahun ini dalam suasana prihatin karena kita masih berada dalam kondisi pandemi covid-19. Untuk menjadi bangsa yang tangguh dan tumbuh menjadi negara yang maju sesuai tema peringatan HUT RI tahun ini maka syarat pertama yang harus dipenuhi adalah bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang kuat, Terutama kuat keimananya kepada Allah swt. Karena dengan keimanan dan ketaqwaan yang kuat bangsa Indonesia akan diberikan jalan keluar oleh Allah swt dari berbagai problema yang dihadapi. Hal ini sesuai janji Allah dalam Al-Qur'an yang artinya Jika suatu negeri penduduknya beriman kepada Allah maka Allah akan buka pintu keberkahan dari langit dan bumi. 

Disamping itu dengan kekuatan iman kepada Allah swt, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang memiliki integritas kepribadian sehingga keadilan bisa ditegakan, kejujuran bisa dilaksanakan dan orang berani memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Selain kuat keimanannya, untuk menjadi bangsa yang tangguh dan tumbuh menjadi negara maju bangsa Indonesia juga harus sehat jiwa raganya, kuat perekonomianya dan kuat sumber daya manusianya dalam penguasaan sains dan teknologi. Dengan fisik yang sehat dan kuat, bangsa Indonesia akan bisa membangun negerinya. Dengan kekuatan ekonomi akan membuat negara bisa menjamin kesejahteraan kehidupan masyarakat dan dengan kekuatan penguasaan sains dan teknologi bangsa ini akan menjadi bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. 

Dalam ajaran Islam untuk menjadi orang yang kuat diantaranya adalah dengan cara bekerja dengan serius, fokus dan sungguh- sungguh, memiliki sandaran vertikal kepada Allah swt dengan selalu memohon pertolongan-Nya atas apa yang dilakukan serta optimis, tidak boleh lemah dan putus asa. Sebagaimana sabda nabi saw : 

 عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال: قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «المُؤمِن الْقَوِيُّ خيرٌ وَأَحبُّ إِلى اللَّهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وفي كُلٍّ خيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا ينْفَعُكَ، واسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وإنْ أصابَك شيءٌ فلاَ تقلْ: لَوْ أَنِّي فَعلْتُ كانَ كَذَا وَكذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قدَّرَ اللَّهُ، ومَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان». رواه مسلم

Dari Abi Hurairata R.A. Dia berkata: Rasulullah SAW bersabda : seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, namun bagi Allah setiap mukmin adalah baik, sungguh-sungguhlah dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, dan mintalah tolong kepada Allah dan jangan pesimis, jika kamu mendapatkan musibah maka janganlah kamu berkata, “andaikan aku lakukan ini niscaya akan begini atau begitu”, tapi katakanlah! “semua sudah ditaqdirkan Allah, apa yang Allah kehendaki pasti akan dilaksanakanNya” ,karena ungkapan andaikan, membuka peluang syaithan untuk menggoda. (HR. Muslim). 

Syarat yang kedua supaya bangsa ini menjadi bangsa yang tangguh dan tumbuh menjadi negara maju adalah dengan menjaga persatuan. Karena tanpa persatuan maka hari-hari kita akan disibukan dengan permusuhan, perselisihan, pertengkaran bahkan peperangan sehingga kita tidak ada waktu untuk membangun dan mengurus negeri ini karena waktu dan tenaga kita dihabiskan untuk saling bermusuhan dan bertengkar . Kita menyaksikan sendiri betapa banyak negara- negara di dunia yang hancur karena tidak bisa menjaga persatuannya. Alhamdulillah dibandingkan bangsa-bangsa lain bangsa kita termasuk salah satu bangsa di dunia yang sampai saat ini bisa menjaga negaranya karena masyarakatnya masih bisa menjaga persatuan. 

Tetapi akhir - akhir ini kita sangat prihatin dan khawatir tehadap bangsa ini karena ditengah-tengah sedang menghadapi musuh bersama yaitu mengatasi pandemi Covid-19 yang membawa bangsa kita dalam berbagai kesulitan seperti kesulitan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya, masih ada saja orang- orang yang menyebarkan kebencian, menghujat, intolerans, menyebarkan berita hoax dan melakukan kekerasan terutama kekerasan verbal di media sosial. Hal-hal seperti ini di usia kemerdekaan kita yang sudah ke 76 tahun harus kita sudahi dan mawas diri, jika hal ini dibiarkan tentu akan mengancam keutuhan bangsa kita. Jika ada persoalan maka selesaikanlah persoalan itu dengan mengedepankan dialog dan musyawarah. Menjadi kewajiban bersama seluruh anak bangsa untuk menjaga Indonesia agar tetap berdiri kokoh dengan menjaga persatuan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

 Diantara ciri negara tumbuh dan menuju menjadi negara maju adalah kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan baik. Oleh karena itu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang merupakan tugas pemerintah harus terus didorong dan diingatkan agar masyarakat Indonesia di usia kemerdekaannya yang ke ke 76 tahun ini semakin sejahtera. Diantara kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi adalah keamanan, kesehatan dan makanan. Sebagaimana sabda Nabi saw : 

 قَالَ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: « مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا» 

Siapa yang pagi hari dalam kondisi aman jiwanya, sehat raganya, dan dia punya bahan makanan cukup di hari itu, seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR Imam Turmudzi dan Imam Ibnu Majah)

Kamis, 27 Agustus 2020

RASULULLAH TERSENYUM MALU..

 


Pada zaman Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa aali wasallam, hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid, yang berumur 35 tahun, namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah (teras) masjid Madinah.

Ketika sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah Saw datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid…selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah Saw menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid, sambil tertunduk tak kuasa melihat kharismatik wajah Beliau.

“Maksudku kenapa engkau selama ini membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah…,?” Tanya Rasulullah Saw.

Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku tak tampan, siapa yang mau dengan diriku ya Rasulullah?”

”Asal engkau mau, itu urusan yang mudah.” Kata Rasulullah Saw sambil tersenyum.

Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan Sahabatnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita.

Setelah surat itu selesai ditulis, maka Rasulullah memberikan surat tersebut kepada Zahid dan memerintahkan agar segera mendatangi rumah Said dan menyerahkan surat lamaran tersebut kepadanya.

Disebabkan di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasulullah yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

Said menjawab, “Wah, ini adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong...”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini… bukankah lebih baik di persilahkan masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Di saat Zulfah melihat Zahid, sambil menangis ia berkata,
“Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau dengan dia ayah..!”

Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau…bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasulullah?”

Akhirnya Said berkata, “Lamaran kepada dirimu ini adalah perintah Rasulullah.”

Zulfah kaget kemudian beristighfar beberapa kali,
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...
Ia menyesal atas kelancangan perbuatannya itu. Seketika ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa tidak sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dinikahkan dengan pemuda ini.
Karena aku ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surah An Nur:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور ٥١)
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diminta Allah dan Rasul-Nya agar Rasul yang mengadili (mengambil keputusan ) diantara mereka, ucapan yang muncul hanyalah : Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. An Nur 24:Ayat 51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang-layang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada taranya, dan segera melangkah pulang.

Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasulullah yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”

“Alhamdulillah lamarannya diterima ya Rasulallah,” jawab Zahid.

“Apakah sudah ada persiapan?”

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasulallah, aku tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke beberapa sahahbat untuk membantunya mendapatkan uang untuk menikah.

Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan perkawinan.

Tak lama kemudian setibanya di pasar, bersamaan itu pula ada pengumuman Jihad untuk perang melawan orang kafir yang mau menyerang masyarakat muslim Madinah.

Zahid Mulai bingung untuk menentukan sikap, menikah atau berjuang demi Agama Allah.

Akhirnya dia mencoba kembali lagi ke masjid. Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, apakah engkau tidak mengetahui?”

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah jika begitu uang untuk menikah ini akan aku belikan baju besi dan kuda yg terbaik, aku lebih memilih jihad bersama Rasulullah dan menunda pernikahan ini."

Para sahabat menasihatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau malah hendak berperang?”

Zahid menjawab dengan tegas, “Hatiku sudah mantap untuk bersama Al Musthafa Rasulullah pergi berjihad.”

Lalu Zahid membacakan ayat AlQur'an di hadapan sahabat Nabi:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة ٢٤)
“Katakanlah, Jika bapak -bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu kuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai , itu semua lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dengan) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah, 9:24).

Akhirnya Zahid maju ke medan pertempuran. Dengan hebatnya beliau bertempur, banyak dari kaum kafirin tewas di tangannya dan pada akhirnya beliau mendapatkan syahid. Gugur demi membela agama Allah dan Rasulullah. . .

Peperangan telah usai, kemenangan direbut oleh Rasul dan pasukannya.

Senja yang penuh dengan keberkahan ketika Rasullullah memeriksa satu persatu yang telah gugur di jalan Allah, sebagai Syuhada Allahu azza wajalla.

Nampak dari kejauhan sosok pemuda yg bersimbah darah dengan luka bekas sasatan pedang.

Rasulullah menghampiri jasad pemuda itu sambil meletakkan kepalanya di pangkuan manusia agung ini. Habiballah
memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, "Bukankah engkau ya Zahid yg hendak menikah malam ini ??"
Tapi engkau memilih keridhaan Allah, berjihad bersamaku."

Tak lama kemudian Rasulullah tersenyum sembari memalingkan muka ke sebelah kiri karena malu.
Disebabkan karena ternyata sesosok bidadari cantik dari Surga menjemput Ruh mulia pemuda ini, dan tak sengaja gaunnya tersingkap hingga betisnya yang indah terlihat.
Ini yang membuat Rasulullah malu.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an;

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ * فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (آل عمران ١٦٩ - ١٧٠)
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sejatinya mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan bahagia disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
(QS. Ali Imran, 3:169-170.)

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata, dan Zulfah pun berkata,
“Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak dapat mendampinginya di dunia, maka izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”.......

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آله وصحبه أجمعين

Sumber : FB Sejarah Ulama dan Karamahnya

Minggu, 21 Juni 2020

MENJAGA KETAKWAAN PASCA RAMADHAN


Satu bulan lamanya umat Islam melaksanakan ibadah di Bulan Suci Ramadhan. Sejatinya ibadah Ramadhan baik yang wajib maupun yang sunah dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt dan meningkatkan hubungan baik dengan sesama manusia. Tapi kenyataannya setelah Ramadhan berlalu banyak diantara kita kembali menjauh dari Allah SWT. Lalu apa yang harus kita lakukan agar kebaikan-kebaikan yang kita laksanakan di bulan Ramadhan tidak hilang begitu saja seiring berlalunya bulan suci Ramadhan ?

1. Memohon Keteguhan Iman kepada Allah SWT.

Bulan suci ramadhan adalah bulan peningkatan iman dan taqwa. Dibulan Ramadhan kita melaksanakan ibadah puasa, shalat tarawih, tadarrus al-qur’an, sodaqoh dan ibadah lainnya yang dengan ibadah-ibadah itu meningkat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Setelah bulan Ramadhan selesai kita mohon kepada Allah swt agar hati kita tetap kuat dan semangat untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT sebagaimana kita semangat ketika melaksanakan perintah-perintah itu di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW mengajarkan doa kepada kita:

عن أَنَسٍ رضى الله عنه قَالَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَيَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ,فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِآمَنَّا بِكَوَبِمَا جِئْتَ بِهِفَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَنَعَمْإِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ,يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

Artinya : Dari Anas RA berkata, adalah Rasulullah SAW memperbanyak do’a, “Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu. Anas berkata: Wahai Rasullulh kami beriman kepadamu dan kepada apa yang datang padamu, apa yang kau khawatirkan? Beliau bersabda: Ya, sesungguhnya hati itu ada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Allah membolak-balikkan kepada yang dikehendaki-Nya. (HR Tirmidzi).

Hati manusia bisa condong kepada kebaikan dan kepada keburukan karena di dalam diri manusia terdapat bisikan dari setan yang selalu mengajak kepada keburukan dan bisikan dari malaikat yang selalu mengajak kepada kebaikan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ اْلأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ثُمَّ قَرَأَ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمْ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ

Artinya : Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setan memiliki bisikan pada manusia, malaikat juga memiliki bisikan. Bisikan setan  menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat  menjanjikan kebaikan dan mempercayai kebenaran. Barangsiapa mendapatkan bisikan kebaikan dan kebenaran, maka ketahuilah bahwa itu dari Allah, kemudian hendaklah dia memuji Allah. Dan barangsiapa mendapatkan bisikan keburukan dan mendustakan kebenaran, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dari  setan yang terkutuk”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: ( al-Baqarah/2: 268)

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya : Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji. (HR. Tirmidzi).

Di dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa orang-orang yang ilmunya mendalam (Arrasikhuna fil ilmi) senantiasa berdo’a kepada Allah swt agar diberikan ketetatapan hati dalam menjalankan agama dan tidak tergelincir dalam kesesatan.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya : "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (QS. Ali Imran ayat 8)


2. Istiqomah dalam Melaksanakan Perintah Allah.

Imam Nawawi menjelaskan makna istiqamah adalah luuzumu tha’atillah yaitu tetap konsisten dan konsekuen dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah ta’ala. Oleh karena itu ketaatan kita kepada Allah bukan hanya di  bulan Ramadhan, seyogyanya kita tetap taat kepada Allah dan selalu meningkatkan amal shalih meskipun diluar bulan Ramadhan.
Allah swt berfirman dalam surat Al-Hijr ayat 99 :
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Artinya : Sembahlah Tuhanmu sampai kematian datang menjemputmu.

Rasulullah saw bersabda :

كانَتْ لنا حَصيرةٌ نَبسُطُها بالنَّهارِ، ونَحتَجِرُها بالليلِ، فصلَّى فيها رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ذاتَ ليلةٍ فسمِعَ المُسلِمون قِراءَتَه، فصَلَّوْا بصَلاتِه، فلمَّا كانَتِ الليلةُ الثانيةُ كَثُروا، فاطَّلَعَ إليهم فقال: اكْلُفوا مِن الأعمالِ ما تُطيقونَ؛ فإنَّ اللهَ لا يَمَلُّ حتى تَمَلُّوا، وكان أحَبُّ العَمَلِ إليه أدْوَمَهُ، وإنْ قَلَّ، قالَتْ: وكان إذا صلَّى صلاةً أثبَتَها.

Artinya : Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kerjakanlah suatu amalan itu sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidak akan bosan sehingga diri kalianlah yang bosan, sesungguhnya amalan yang paling di cintai Allah adalah yang di kerjakan secara terus menerus walaupun sedikit." apabila beliau mengerjakan suatu amalan, beliau akan mengerjakannya secara rutin." (HR Abu Daud).

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Sarjis, bahwa jika ingin bermusafir Rasulullah berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ

Ya Allah, aku mohon perlindungan-Mu agar terhindar dari berbuat dosa (الحور) setelah berbuat ketaatan (الكور). Aku mohon perlindungan-Mu agar terhindar dari kemunduran setelah meraih kemajuan. (Hadis riwayat Ibnu Majah & Tirmizi).

Seorang ulama shalih Yahya bin Muadz berkata :
قال يحيى بن معاذ: "من استغفر بلسانه وقلبه على المعصية معقود، وعزمه أن يرجع إلى المعصية بعد الشهر ويعود، فصومه عليه مردود، وباب القبول في وجهه مسدود"
Artinya : “Barangsiapa meminta ampunan (kepada Allah) dengan ucapan lisannya, sementara hatinya merasa terikat dengan perbuatan maksiat, dan bahkan ia berkeinginan kuat untuk mengulangi lagi perbuatan maksiatnya, maka puasanya ditolak Allah, dan pintu diterimanya amal tertutup baginya.”

3. Puasa 6 hari di bulan Syawal.

Puasa Syawal untuk menjaga agar amal ibadah kita tetap kontinyu meski di luar bulan Ramadan. Pada saat berhari raya orang bergembira merayakannya, makan dengan makanan yang beraneka macam dan berpakaian dengan pakaian yang bagus. Supaya tidak terlena dengan kegembiraan dihari raya itu Rasulullah saw mengingatkan untuk melaksanakan puasa Syawal yang pahalanya seperti melaksanakan puasa 1 tahun. Sebagaimana sabda nabi SAW

قال النبي : ‏‏" مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ " ‏رواه مسلم

Artinya : “ Nabi saw bersabda barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka dia seperti puasa satu tahun.”

Para ulama menjelaskan mengenai hadist di atas bahwa puasa Ramadhan selama 30 hari ditambah puasa Syawal 6 hari berjumlah 36 hari. Setiap 1 hari puasa dibalas dengan 10 pahala kebaikan, sehingga puasa 30 hari Ramadhan ditambah puasa 6 hari Syawal setara dengan 360 hari atau satu tahun.