Minggu, 29 Maret 2026

KHUTBAH IDUL FITRI : MERAIH KEMENANGAN YANG HAKIKI


الله اكبر ٩× الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان  الله بكرة وأصيلا لاله إلا الله وحـده ,صد ق وعـده ,ونصرعـبده، واعزجـنـده و هزم الأحزاب وحـده لاله الالله ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. لاله الالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ والإسلام. وصلى الله وسلم عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وحده لا سريك له، الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإحْتِرَامِ أَمَّا بَعْد. فيا عباد اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ و مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Allahu Akbar Allahu Akbar Allah Akbar Walillahil Hamd.
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang diharamkan.

Jamah yang dimuliakan Allah.
Selama satu bulan Ramadhan, Kaum Muslimin memperbanyak ibadah kepada Allah swt. Seperti Tadarus Al-Qur’an, shalat tarawih, berbagi sedekah takjil, shalat berjamaah, dan ibadah-ibadah lainnya. Di penghujung Ramadhan, kita semua bersiap untuk melepas kepergian bulan mulia ini sekaligus bersiap menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri yaitu hari yang agung, hari kembalinya kita kepada fitrah,  dan hari kemenangan. Saat Idul Fitri inilah semua umat Muslim bersukaria merayakan hari kemenangan. Memakai baju baru, menyiapkan aneka kue lebaran untuk menyambut tamu, berkumpul dengan sanak saudara, dan sejumlah momen bahagia lainnya.

Namun, jamaah yang dimuliakan Allah, Apakah yang dimaksud kemenangan di hari raya Idul Fitri itu? Apakah sekadar karena kita telah selesai berpuasa selama satu bulan? Apakah karena kita sudah berhasil menang mengalahkan hawa nafsu di bulan Ramadhan ?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka, mereka itu lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ayat ini menjelaskan bahwa kemenangan sejati menurut Allah swt bukan sekadar berhasil melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh, tetapi kemenangan itu adalah jika setelah melaksanakan ibadah puasa ada tiga unsur melekat pada diri seseorang :
Pertama: Iman
Selama Ramadhan, iman kita dilatih dengan puasa yang penuh keikhlasan, dengan shalat tarawih, dengan membaca Al-Qur’an. Maka orang yang menang adalah orang yang imannya semakin kuat setelah Ramadhan.

Oleh karena itu setelah Ramadhan jangan sampai iman kita kembali lemah. Kita kembali kepada kebiasaan buruk. Amal ibadah kita kembali menurun.

Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.”
(QS. Al-Hijr: 99)

Syekh Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i dalam Kanzun Najāḥ was Surūr mengatakan,

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ

Artinya, “Bukanlah disebut hari raya Idul Fitri bagi orang yang mengenakan pakaian baru. Hari raya Idul Fitri itu sesungguhnya adalah ketika ketaatan seseorang meningkat. Setiap hari ketika seseoran tidak melakukan maksiat, maka hari itu baginya adalah hari raya Idul Fitri” (Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i, Kanzun Najāḥ was Surūr, 2009: h. 263).

Kedua: Hijrah (Perubahan ke arah yang lebih baik)
Hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat, tetapi juga berarti:  berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Untuk bisa hijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiadaan baik maka orang terlebih dahulu harus membersihkan dirinya, oleh karena itu secara filosofis, Inti dari seluruh amaliah Ramadhan yang beragam selama satu bulan penuh adalah membersihkan diri dari dosa, seperti yang diisyaratkan oleh hadits Rasulullah saw.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ماتقدم من ذنبه

Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan landasan keimanan dan hanya mengharap ridha Allah, maka diampuni semua dosanya yang terdahulu. 

Seseorang yang sudah bersih dirinya maka akan mudah berhijrah, menjalankan kebaikan dan tidak akan melakukan kemaksiatan. Itulah mengapa didalam Al-Qur'an disebutkan bahwa tujuan ibadah puasa adalah agar menjadi orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang senantiasa taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah.

Ketiga: Jihad (Bersungguh-sungguh dalam kebaikan).
Jihad di sini berarti bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan itu sudah dilatih dibulan Ramadhan seperti menahan hawa nafsu saat berpuasa, mengeluarkan harta untuk sedekah dan zakat, melawan keinginan untuk bermalas-malasan. Maka orang yang menang adalah orang yang bersungguh-sungguh menjaga amalnya.

Jamaah yang dirahmati Allah,
Dari uraian ini kita memahami bahwa kemenangan Idul Fitri bukan hanya selesai berpuasa, tetapi Iman kita semakin kuat, berhasil berubah menjadi lebih baik dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan. Jika tiga hal ini ada dalam diri kita, maka insyaAllah kita termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan. Namun jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan, maka kita perlu bermuhasabah.

Jamaah sekalian,
Di akhir khutbah ini khatib mengajak marilah kita saling memaafkan, membersihkan hati dari dendam dan mempererat silaturahmi. Karena bagian dari kemenangan adalah memiliki hati yang bersih.

Marilah kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal ibadah kita.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah II

الله اكبر ٩× الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان  الله بكرة وأصيلا اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar