Saat ini kita menyaksikan peperangan masih terjadi di bebera negara. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa hampir sebagian besar konflik dan peperangan itu terjadi di negara yang warganegaranya para pemeluk agama. baik agama-agama besar seperti Islam, kristen protestan, kristen katolik, Hindu, Bhuda maupun agama-agama atau kepercayaan lokal lainnya.
Salah satu alasan mengapa orang memeluk agama karena agama dapat memberikan rasa damai bagi manusia dan manusia itu pada dasarnya ingin hidup damai, manusia mencari kedamaian itu dan akhirnya ditemukan kedamaian itu berada di dalam agama. Karena itu, korelasi antara agama sebagai pemberi kedamaian dan manusia yang ingin hidup damai dapat dijadikan dasar bagi agama-agama bahkan bukan hanya agama Islam, untuk ikut mengusahakan perdamaian dunia yang bagi bangsa kita hal itu merupakan amanat dalam pembukaan undang undang dasar negara kita.
Bagaimana agama Islam memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia ?
Agama Islam memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia melalui beberapa cara:
1. Ajaran Kasih Sayang
Islam mengajarkan kasih sayang, toleransi, menghormati perbedaan dan mengajarkan hidup damai bagi para pemeluknya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Hujurat: 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari asal yang sama sebagai keturunan Adam dan Hawa yang tercipta dari tanah. Seluruh manusia sama di hadapan Allah, manusia menjadi mulia bukan karena suku, warna kulit ataupun jenis kelamin melainkan karena ketaqwaannya. Kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tujuan penciptaan semacam itu bukan untuk saling menjatuhkan, menghujat, dan berperang antar suku dan bangsa melainkan agar masing-masing saling kenal-mengenal untuk menumbuhkan rasa saling menghormati, saling tolong-menolong dan hidup berdampingan dengan damai. Dalam sejarah diceritakan Nabi Muhammad SAW memperlakukan non-Muslim dengan baik dan adil, seperti yang terjadi dalam Perjanjian Madinah.
Ajaran Islam menekankan akan pentingnya saling percaya, pengertian, dan menghargai orang lain, menjauhi buruk sangka dan mencari kesalahan orang lain. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
2. Prinsip Keadilan
Islam menekankan pentingnya keadilan dan tidak menzalimi orang lain sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Nahl: 90
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
lslam mengajarkan untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 256 yang berbunyi :
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya : Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
3. Dialog Lintas Agama
Tercatat dalam sejarah bahwa perjumpaan agama-agama terjadi dalam keadaan yang kurang baik. Mereka kecenderungannya berjumpa dalam konflik, misalnya dalam peperangan. Salah satunya adalah dalam perang salib. Terjadi saling curiga, menuduh, menyalahkan, bahkan bertemu dalam peperangan. Oleh sebab itu untuk menghindari terjadinya sejarah kelam itu maka diperlukan dialog antar agama dan revitalisasi pemeliharaan kerukunan umat beragama melalui penguatan kelembagaan.
Agama Islam mendorong dialog dan komunikasi untuk menyelesaikan konflik sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Ankabut: 46
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada kami dan kepada (Taurat dan Injil) yang diturunkan kepada kamu, dan Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya menyerahkan diri."
Dalam sejarah diceritakan Nabi Muhammad SAW melakukan dialog lintas agama dengan delegasi Kristen Najran.
4. Kerja Sama Internasional
Islam mengajarkan kerja sama internasional untuk kebaikan bersama sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah: 2
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَرِغَبُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan (pula melanggar) kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) had-ya (hewan-hewan kurban) dan qala'idnya (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya; dan apabila kamu telah (keluar dari ihram) maka bolehlah kamu berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."
Dalam ajaran Islam, seluruh umat manusia harus mengedepankan perdamaian, cinta damai dan memberi rasa aman bagi seluruh makhluk. Juga secara tegas al-Qur’an menganjurkan untuk memberi maaf, membimbing kearah kesepakatan damai dengan cara musyawarah, duduk satu meja dengan prinsip kasih sayang. Hal tersebut terdapat dalam Surat asy-Syuura ayat 40 yang berbunyi :
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: Dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik(2) Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.
Ketika menghadapi permasalahan, Islam mengajarkan untuk selalu mengedepankan klarifikasi, dialog, diskusi, dan musyawarah. Tidak boleh menjatuhkan vonis tanpa mengetahui dengan jelas permasalahannya. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 6 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dengan demikian, Islam dapat menjadi sumber inspirasi bagi perdamaian dunia.