Senin, 02 Maret 2026

HIKMAH PERINGATAN NUZULUL QUR'AN

Oleh : Ma'arif Fuadi

Bulan Ramadan adalah bulan yang berkah sebagaimana sabda Rasululullah saw:

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Artinya : "Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang jahat diikat. Pada bulan itu, Allah memiliki satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang." (HR. Imam Nasai dan Imam Ahmad).

Salah satu keberkahan bulan Ramadhan karena Al-Qur'an diturunkan pada bulan Ramadan ini. Sebagaimana Firman Allah swt di dalam surat Al-Baqarah ayat 185:     

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185)

Proses turunnya Al-Qur'an

1. Al-Qur’an Berasal dari Allah SWT
Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukan ciptaan manusia dan bukan karangan Nabi Muhammad saw. Allah berfirman:
وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Artinya: Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (QS. Asy-Syu‘ara: 192)

2. Diturunkan ke Lauhul Mahfuzh
Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, Al-Qur’an telah tertulis di Lauhul Mahfuzh (Kitab yang terjaga). Lauhul Mahfuzh adalah tempat di mana Allah mencatat seluruh ketetapan-Nya, termasuk Al-Qur’an secara lengkap.

3. Diturunkan ke Baitul ‘Izzah di Langit Dunia
Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus (secara utuh) dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.
Proses ini disebut turun sekaligus
إنا أنزلناه في ليلة القدر

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.” 
(QS. Al-Qadr: 1)

4. Diturunkan Secara Bertahap kepada Nabi Muhammad saw
Setelah itu, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril ‘alaihissalam selama kurang lebih 23 tahun, 13 tahun di Makkah, 10 tahun di Madinah. Allah berfirman:

وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا 

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia.” (QS. Al-Isra: 106)

Hikmah diturunkan Al-Qur'an:

Diantara Hikmah diturunkannya Al-Qur'an adalah :

1. Sebagai petunjuk dalam kehidupan manusia

“Hudan linnas.” Petunjuk bagi manusia. Karena Al-Qur'an sebagai kitab petunjuk maka ayat yang pertama yang ditutunkan bukan perintah shalat, bukan puasa, bukan zakat tetapi perintah membaca. Sebagaimana firman Allah swt di dalam surat al-Alaq dari ayat 1-5:

.اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

Ironisnya, kita merayakan Nuzulul Qur’an setiap tahun. Namun apakah Al-Qur’an benar-benar hidup di rumah kita? Ramadan hari ke 17 ini sudah berapa juz Al-Qur'an yang kita baca ? Mushaf ada, tapi jarang dibuka. Ayat dihafal, tapi belum diamalkan. Tilawah ada, tapi tanpa tadabbur.
Rasulullah saw pernah menyampaikan:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا 

Rasulullah saw (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan. (QS. Al-Furqan: 30)

Bagaimana Al-Qur'an akan menjadi petunjuk dalam kehidupan jika Al-Qur'an tidak pernah dibaca bahkan diabaikan. Jangan sampai kita termasuk yang disebut dalam ayat tersebut.

2. Sebagai pembeda antara hak dan batil

Manusia adalah makhluk mulia sepanjang berpegang kepada Alquran.  Hal ini sejalan dengan prinsip dasar Islam. Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (fi ahsani taqwim) dan diberikan akal untuk membedakan mana yang hak dan batil mana yang haram dan mana yang halal. Manusia yang tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam hidupnya maka mereka seperti binatang bahkan lebih rendah dari binatang. Sebagaimana firman Allah

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah] dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah]. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” ( Al-A’raaf : 179 )

Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup adalah jaminan agar tidak tersesat dalam kehidupan dunia dan akhirat.

3. Sebagai Obat dan Rahmat bagi orang beriman

Yang dimaksud obat pada ayat ini yaitu Al-Qur'an dapat mengobati penyakit non medis, utamanya penyakit hati atau kejiwaan seperti keraguan, kekafiran, kemunafikan, kesyirikan, kebodohan, hawa nafsu, dan hati yang gelisah. Al-Qur’an menyingkirkan syubhat dan penyakit hati dengan ilmu yang yakin, nasihat, dan peringatan. Juga bisa menjadi obat bagi penyakit fisik bila dibacakan sebagai ruqyah (doa atau terapi) dengan keyakinan. Misalnya sakit kepala, sengatan binatang, demam, dan lain-lain. Nabi dan sahabat mencontohkan membaca Al-Fatihah atau ayat-ayat tertentu untuk penyembuhan jasmani. Jadi, dalam tradisi Islam, Al-Qur’an dipakai untuk ruqyah dan dipandang menyembuhkan penyakit medis maupun non-medis, asalkan dengan iman dan syarat yang benar.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا 

Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian (QS. Al-Isra: 82).

Galau, Stres, gelisah, cemas, obatnya bukan hanya hiburan, tetapi kembali kepada Al-Qur’an.

Zaman berubah. Teknologi berkembang. Tantangan semakin kompleks, tetapi Al-Qur’an tetap relevan. Al-Qur'an adalah cahaya. Tanpa cahaya, kita berjalan dalam gelap. Dengan cahaya, kita tahu arah. Hari ini kita lebih sering membuka ponsel daripada membuka mushaf. Waktu untuk scrolling media sosial berjam-jam terasa ringan.Tetapi membaca satu juz terasa berat.

Mari kita menghidupkan Al-Qur’an dalam diri dan keluarga kita dengan membacanya setiap hari. Memahami Maknanya. Mengamalkan Isinya. Seperti Jujur dalam berdagang. Amanah dalam bekerja. Santun dalam berbicara. Mengajarkan kepada Keluarga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

 

Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala


Rumah yang dipenuhi bacaan Al-Qur’an akan dipenuhi ketenangan.

Diriwayatkan dari Abi Hurairoh :

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هَانِئٍ، حَدَّثَنَا حَرْبُ بْنُ شَدَّادٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى هُوَ ابْنُ أَبِي كَثِيرٍ، حَدَّثَنِي حَفْصُ بْنُ عِنَانٍ الْحَنَفِيُّ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، كَانَ يَقُولُ: «إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ، وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ، وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ» قال المحقق إسناده صحيح وهو موقوف على أبي هريرة

Muʿādz bin Hāniʾ menceritakan kepada kami, Ḥarb bin Syaddād menceritakan kepada kami, Yaḥyā—yaitu Ibnu Abī Katsīr—menceritakan kepada kami, Hafṣ bin ʿInān al-Ḥanafī menceritakan kepadaku, bahwa Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya rumah akan terasa lapang bagi penghuninya, malaikat-malaikat hadir di dalamnya, setan-setan menjauh, dan kebaikannya melimpah jika di dalamnya dibacakan Al-Qur’an. Sebaliknya, rumah akan terasa sempit bagi penghuninya, malaikat-malaikat menjauh, setan-setan hadir, dan kebaikannya sedikit bila di dalamnya tidak dibacakan Al-Qur’an.” Al-muḥaqqiq (peneliti sanad) menilai sanadnya sahih, namun hadis ini mauqūf (perkataan) Abu Hurairah (bukan langsung dari Nabi).

Semoga peringatan Nuzulul Qur’an ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, penawar hati, dan sumber rahmat yang benar-benar hidup dalam keseharian kita. 

Semakin kita menyadari betapa pentingnya Al-Qur'an dalam kehidupan kita, semakin tumbuh keinginan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, membacanya setiap hari, memahami maknanya, dan mengamalkannya serta menjadikannya teman setia dalam kehidupan di dunia.