MEMBINGKAI PERBEDAAN DENGAN DAKWAH:
Refleksi Konsep Taswiyah
al-Manhaj dan Tansiq al-Harakah[1]
Oleh: DR. KH. Ma’ruf Amin[2]
Perbedaan merupakan suatu hal yang
tidak terhindarkan dalam kehidupan ini. Perbedaan selain bisa menimbulkan
dampak negative tidak jarang juga memberikan dampak positif karena bisa
memberikan warna dalam banyak hal, bisa menambal dan menutup kekurangan
masing-masing, dan bisa saling melengkapi antara satu dan lainnya. Perbedaan
akan memberikan dampak positif, karena merupakan manifestasi dari beragamnya
pemikiran, baik yang disebabkan oleh adanya perbedaan dalam metodologi,
perbedaan dalam perspektif berfikir dan sudut pandang, ataupun perbedaan dalam
penafsiran terhadap adillah. Namun demikian perbedaan tersebut akan
membawa dampak negative jika tidak disertai dengan adanya etika perbedaan.
Islam tidaklah melarang adanya
perbedaan di antara umatnya. Bahkan dalam sejarah Islam, perbedaan di antara
umat Islam telah terjadi mulai dari generasi awal. Kita bisa melihat perbedaan
yang terjadi di antara para Imam Mazhab besar semisal Imam Abu Hanifah, Imam
Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, imam Al-Auza’i, dsb. Di antara mereka kita
tidak pernah mendengar adanya pernyataan yang menyatakan bahwa pendapat dari
selainnya adalah salah. Mereka menyatakan, Mazhabi shawabun yahtamilu
al-khatha’, wamazhabu ghairina khathaun yahtamilu as-shawab. Artinya:
pendapat dalam mazhabku benar (menurutku) dan mungkin ada kesalahannya,
sedangkan mazhab lainnya salah (menurutku) namun mungkin mengandung kebenaran.
Bahkan dalam sejarah Islam perbedaan
yang terjadi di antara umat Islam sudah muncul pada era Tabi’in, bahkan pada
era Sahabat di masa nabi SAW masih hidup. Hal itu sama sekali tidak dilarang
oleh nabi SAW.
Di sisi lain, Indonesia dikenal sebagai sebuah negara
muslim. Alasannya, Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah penduduk
mayoritas beragama Islam. Indonesia bahkan dikenal sebagai negara dengan jumlah
penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Karena begitu besarnya jumlah umat
Islam di Indonesia, merupakan hal yang tidak terelakkan jika umat Islam di
Indonesia juga sangat beragam, baik dari sisi faham keagamaannya, tingkat
pendidikan dan kesejahteraannya, dan juga aspirasi politiknya. Di satu sisi
keberagaman tersebut membawa dampak positif karena berpotensi menjadi pilar
penyangga upaya pembangunan strategi kebudayaan umat. Namun di sisi lain
kondisi tersebut juga bisa memperlemah gerakan umat, jika tidak ditata
sedemikian rupa.
Umat Islam di
Indonesia yang berjumlah besar jika tidak dibarengi dengan adanya
pengkoordinasian secara benar, berpotensi memunculkan superioritas semu; merasa
besar tapi sejatinya keropos. Merasa superior karena jumlahnya memang besar,
namun pada kenyataannya “tidak berdaya”, baik di bidang ekonomi, politik, dan
juga pendidikan. Salah satu penyebabnya karena umat Islam di Indonesia
terkelompokkan dalam organisasi keagamaan ataupun organisasi politik yang
bergerak sendiri-sendiri tanpa adanya koordinasi. Sehingga gerakan yang
dilakukan tidak efektif menyentuh kondisi umat. Tidak heran jika umat Islam di
Indonesia dikatakan besar dalam jumlah tapi minim prestasi (katsir
fil-jumlah qalil fid-daurah).
Tidak bisa
dipungkiri bahwa gerakan dakwah di Indonesia saat ini dilakukan secara sporadis
dan tidak
terkoordinasi. Lembaga dakwah yang ada saat ini melakukan aktifitas dakwahnya
sesuai dengan kepentingan masing-masing kelompoknya. Akibatnya, aktifitas
dakwah yang ada terkesan tidak sistematis dan tidak efektif, sehingga ada
bidang-bidang dakwah yang tak ter"jamah" oleh aktifitas dakwah.
Menyadari hal
tersebut, tepatlah kiranya mengangkat kembali konsep Penyamaan Pola Pikir dalam Masalah
Keagamaan (taswiyah al-manhaj) dan Koordinasi Langkah Strategis dalam Masalah Keagamaan (tansiq
al-harakah) yang diputuskan dalam Forum Ijtima Ulama Se Indonesia II
tahun 2006.
Akar Perbedaan Umat Islam
Perbedaan hasil ijtihad yang
dilakukan oleh para ulama merupakan rahmat bagi umat. Dalam sebuah kesempatan
khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiallahu ‘anhu mengatakan:
"ما يسرني أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لم
يختلفوا، لأنهم لو لم يختلفوا لم يكن لنا رخصة".
“yang tidak membahagiakan saya adalah jika tidak ada
perbedaan di antara para sahabat, sebab jika demikian tidaklah ada rukhshah
bagi kita”
Sungguhpun para sahabat dan para
ulama sesudahnya sangat terbuka adanya perbedaan dari hasil ijtihad mereka,
namun hal itu sama sekali tidak menghalangi mereka untuk mengedepankan
persatuan umat (tauhid al-ummah) dan ukhuwah Islamiyah. Perbedaan
tersebut memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih di antara pendapat
mereka. Namun demikian kita juga harus meniru akhlak mereka, karena walaupun
ada perbedaan di antara mereka sama sekali tidak menghalangi untuk membangun
adanya ikatan ukhuwah Islamiyah.
Apabila dicermati lebih dalam,
perbedaan yang terjadi di antara umat Islam disebabkan oleh banyak hal, antara
lain:
1.
Karakter
Agama Islam (Thabi’atu ad-Din).
Allah SWT telah menetapkan bahwa
dalam agama Islam ada hukum-hukum terhadap sesuatu yang telah ditetapkan (al-manshush),
namun banyak juga yang belum ditetapkan (maskut ‘anhu). Terhadap
hukum-hukum yang telah ditetapkan (al-manshush) ada yang ketetapan
hukumnya jelas (muhkamat) ada juga yang tidak jelas (mutasyabihat),
ada yang pasti (qath’iyat) ada pula yang tidak pasti (zhanniyat),
ada gamblang (sharikh) dan ada pula yang perlu penjelasan lebih lanjut (muawwal).
Semua ini dimaksudkan agar umat Islam berusaha untuk senantiasa menggalinya
(melalui pranata ijtihad) agar sesuai dengan tuntutan zaman.
Kalau saja perbedaan ini tidak
merupakan sunatullah, bisa saja Allah SWT menjadikan umat Islam satu warna yang
tidak ada perbedaan di antaranya. Misalnya dengan menurunkan kitabNya dengan
lengkap memuat nash-nash yang jelas dan pasti (qath’i ad-dilalah) yang
tidak ada kemungkinan untuk memahami dan menafsirinya selain dari yang
dikehendaki olehNya. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Allah mensyari’atkan
adanya ijtihad di antara umat Islam. Di mana hasil ijtihad bisa berbeda
disebabkan adanya ‘illah yang berbeda.
2.
Karakter
Bahasa (Thabi’atu al-Lughah).
Perbedaan di antara umat Islam juga
dikarenakan adanya perbedaan dalam menafsiri arti dan susunan nash dalam
al-Quran dan as-Sunnah, karena adanya nash yang bisa ditafsiri lebih
dari satu arti (al-musytarak). Nash dalam al-Quran dan as-Sunnah
ada yang bernada langsung sehingga mudah bisa difahami (al-haqiqah) dan
ada yang bernada tidak langsung sehingga membutuhkan penelusuran lebih lanjut (al-majaz).
Ada yang kalimatnya umum (al-‘am) dan ada yang spesifik (al-khash).
Ada yang muthlaq dan ada yang muqoyyad. Semua ini menyebabkan
perbedaan penafsiran dan pemahaman di antara umat Islam, sehingga menyebabkan
terjadinya perbedaan dalam penyimpulan hukum.
3.
Karakter
Manusia (Thabi’atu al-Basyar)
Setiap manusia dijadikan oleh Allah
dalam keadaan yang berbeda antara satu dan lainnya. Setiap manusia adalah unik
baik karakter, kebribadian, cara berfikir, kecenderungan, dsb. Karenanya tidak
mungkin menjadikan manusia ini sama dan menghapus perbedaan yang terjadi di
antara mereka. Upaya menyamakan manusia dan menghapus perbedaan yang terjadi di
antara mereka sama saja dengan menyalahi fitrah manusia yang telah digariskan
oleh Allah SWT.
4.
Karakter
Dunia dan Kehidupan (Thabi’atu al-Kaun wa al-Hayah)
Dunia dan kehidupan ini dijadikan
oleh Allah SWT dalam keadaan yang berbeda, berwarna dan beraneka ragam. Hal ini
tidak menimbulkan perbedaan yang saling bertentangan, tapi malah saling
melengkapi dan mewarnai antara satu dan lainnya. Dalam kehidupan ini yang
niscaya adalah perubahan yang terjadi karena berbagai hal. Sehingga perbedaan
adalah sunatullah, hukum alam, yang telah dirancang oleh Pencipta alam seisinya
ini. Allah SWT berfirman
{
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً } [هود : 118] .
“Seandainya Tuhanmu menginginkan maka ia menjadikan manusia
menjadi umat yang satu (yang tidak ada perbedaan)”
Dalam sebuah atsar disebutkan:
"لا
يزال الناس بخير ما تباينوا فإذا تساووا هلكوا".
“manusia selalu dalam keadaan baik selagi saling menjelaskan
(antara satu dan lainnya karena perbedaannya), jika mereka dipaksakan untuk
sama maka mereka akan hancur”
Taswiyatul Manhaj Sebagai Cara Mengatasi Perbedaan
Kondisi
faktual umat Islam Indonesia menunjukkan adanya keberagaman, baik dari segi
kultur, budaya, ataupun pemahaman keagamaan yang dianutnya. Keberagaman
tersebut di satu sisi menjadi suatu kekuatan yang berpotensi untuk mendorong
kemajuan umat Islam, akan tetapi di sisi lain, keberagaman ini juga berpotensi
menjadi titik kelemahan umat dalam membangun kehidupannya yang lebih maju.
Kondisi faktual umat Islam saat ini menunjukkan bahwa dalam banyak hal, segi
yang kedua ini yang menonjol, sehingga keberagaman yang ada belum bisa
dioptimalkan untuk menjadi faktor pendorong kemajuan umat.
Salah
satu bukti nyata bahwa keberagaman umat Islam Indonesia lebih banyak menjadi
faktor penghambat kemajuan adalah bahwa pada kenyataannya umat Islam saat ini
masih banyak dipusingkan oleh berbagai macam kasus yang muncul di permukaan
yang disebabkan oleh adanya keberagaman tersebut, terutama keberagaman dalam
pemahaman ajaran keagamaan. Ketika umat Islam Indonesia sudah mulai menenggang
perbedaan pemahaman ajaran keagamaan yang bersifat furu'iyah, misalnya
perbedaan rekaat tarawih, perbedaan penggunaan qunut, perbedaan adzan di shalat
jum'at, dsb, saat ini muncul kasus-kasus ajaran keagamaan yang mengarah pada
perbedaan ushuliyah.
Memang
harus dibedakan antara perbedaan yang bersifat furu'iyah dan yang
bersifat ushuliyah. Saya sendiri cenderung untuk mempergunakan istilah keberagaman
terhadap perbedaan pemahaman keagamaan yang bersifat furu'iyah.
Sedangkan yang bersifat ushuliyah, saya cenderung menganggapnya sebagai penyimpangan.
Konsekwensinya, setiap keberagaman yang terjadi karena perbedaan pemahaman
keagamaan yang bersifat furu'iyah, menurut saya harus dihormati, karena
perbedaan yang terjadi pada domain ini merupakan sesuatu yang tidak dapat
dihindari dari disyari'atkannya pranata "ijtihad", dan perbedaan di
ranah ini apabila dipahami dengan benar merupakan rahmat dari Allah SWT.
Sebaliknya, apabila perbedaan tersebut terjadi di ranah ushuliyah,
misalnya perbedaan yang terjadi pada pokok-pokok ajaran agama, ma'lum min
ad-din bi ad-dharurah, maka perbedaan tersebut merupakan penyimpangan yang
harus segera dihentikan.
Majelis
Ulama Indonesia menyadari kondisi faktual umat Islam Indonesia ini, oleh
karenanya pada tahun 2006, MUI menyelenggarakan Ijtima' Ulama se-Indonesia
ke-II, yang salah satu agendanya adalah membahas masalah Penyamaan Pola Pikir
dalam Masalah Keagamaan (taswiyah al-manhaj).
Ijtima' Ulama se-Indonesia ke II yang diikuti oleh lebih
dari 1000 ulama se-Indonesia tersebut merupakan forum yang sengaja diadakan
oleh MUI untuk membahas permasalahan-permasalahan strategis yang membutuhkan
masukan dan partisipasi dari ulama dari berbagai lapisan masyarakat. Masalah taswiyah
al-manhaj dan tansiq al-harakah dinilai mempunyai urgensi yang
sangat tinggi untuk dibahas di forum tersebut.
Keputusan Ijtima' Ulama se-Indonesia ke-II tentang
Penyamaan Pola Pikir dalam Masalah Keagamaan (taswiyah al-manhaj) selengkapnya
adalah sbb:
1.
Perbedaan pendapat yang terjadi di
kalangan umat Islam merupakan suatu yang wajar, sebagai konsekwensi dari
pranata “ijtihad” yang memungkinkan terjadinya perbedaan.
2.
Sikap yang merasa hanya pendapatnya
sendiri yang paling benar serta cenderung menyalahkan pendapat lain dan menolak
dialog, merupakan sikap yang bertentangan dengan prinsip toleransi (al-tasamuh)
dan sikap tersebut merupakan ananiyyah (egoisme) dan ‘ashabiyyah
hizbiyyah (fanatisme kelompok) yang berpotensi mengakibatkan saling
permusuhan (al-’adawah), pertentangan (al-tanazu’), dan
perpecahan (al-insyiqaq).
3.
Dimungkinkannya perbedaan pendapat di
kalangan umat Islam harus tidak diartikan sebagai kebebasan tanpa batas (bila
hudud wa bila dlawabith).
4.
Perbedaan yang dapat ditoleransi adalah
perbedaan yang berada di dalam majal al-ikhtilaf (wilayah perbedaan).
Sedangkan perbedaan yang berada di luar majal al-ikhtilaf tidak
dikategorikan sebagai perbedaan, melainkan sebagai penyimpangan; seperti
munculnya perbedaan terhadap masalah yang sudah jelas pasti (ma’lum min
al-din bi al-dlarurah).
5.
Dalam menyikapi masalah-masalah
perbedaan yang masuk dalam majal al-ikhtilaf sebaiknya diupayakan
dengan jalan mencari titik temu untuk keluar dari perbedaan (al-khuruj min
al-khilaf) dan semaksimal mungkin menemukan persamaan.
6.
Majal al-ikhtilaf adalah suatu
wilayah pemikiran yang masih berada dalam koridor ma ana alaihi wa ashhaby, yaitu
faham keagamaan ahlus-sunnah wal jamaah dalam pengertian yang luas.
Dari keputusan
Ijtima Ulama se-Indonesia ke II tahun 2006 tentang taswiyah al-manhaj
sebagaimana di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan pemahaman keagamaan yang
bisa ditoleransi adalah perbedaan yang masuk wilayah perbedaan (majal
al-ikhtilaf), sedangkan yang di luar itu dianggap sebagai penyimpangan.
Salah satu
contoh penyimpangan yang terjadi adalah yang ramai diberitakan oleh media massa
baik cetak maupun elektronik, terkait munculnya beberapa aliran yang mempunyai
pemahaman keagamaan menyimpang, misalnya Ahmadiyah dan al-Qiyadah al-Islamiyah.
Aliran Ahmadiyah mengimani adanya nabi
lain setelah nabi Muhammad SAW, yakni Mirza Ghulam Ahmad, sedangkan aliran
al-Qiyadah al-Islamiyah meyakini adanya nabi baru dari Betawi yang bernama
Ahmad Mushadeq. Al-hamdulillah, aliran yang disebut terakhir ini, sebagaimana
diberitakan oleh media massa, telah menyatakan taubat.
Pemahaman yang dikembangkan oleh kedua
aliran tersebut tidak bisa dikatakan sebagai perbedaan, karena pemahaman yang
dikembangkan menyentuh masalah pokok dari ajaran Islam yang telah jelas dan
disepakati oleh umat Islam sepanjang masa (ma'lum min ad-din bi ad-dharurah).
Oleh karenanya, pemahaman seperti ini dikatakan sebagai penyipangan yang harus
segera diamputasi. Harus dibedakan antara perbedaan dan penyimpangan. Dianggap
perbedaan apabila masih dalam lingkup majal al-ikhtilaf, dan dianggap
penyimpangan apabila di luar majal al-ikhtilaf. Sedangkan ukuran majal
al-ikhtilaf itu sendiri adalah apabila masih dalam lingkup ma ana
'alaihi wa ashhabi.
Landasan teologis (dalil) dari konsep ma
ana 'alaihi wa ashhabi ini adalah hadis nabi sbb:
"...وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ
تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى
ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً
قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي"
“… sesungguhnya
bani Israel terpecah dalam 72 golongan, dan umatku terpecah dalam 73 golongan;
semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: “Wahai
Rasulullah, siapa kelompok tersebut?”. Rasul menjawab “ma ana alaihi wa ashhabi
(yang mengikuti aku dan sahabatku)”
Kalimat
“ma ana ‘alaihi wa ashhabi” sebagaimana disebut hadis di atas mempunyai
maksud "mengikuti apa-apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. dan
memahaminya sebagimana yang dilakukan oleh para sahabat".
Mengikuti apa-apa yang telah
disampaikan oleh Rasulullah saw. artinya adalah berpegang teguh kepada al-Quran
dan as-Sunnah, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran dan dalam hadis Rasulullah
SAW sbb:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ
فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Kemudian jika
kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya)”
QS. An-Nisa [4] : 59
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ
تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه
مسلم)
“Aku
tinggalkan kepada kalian dua hal, di mana kalian tidak akan tersesat selagi
memegang teguh keduanya; yaitu kitabullah (al-Quran) dan sunnah nabi-Nya” (HR. Muslim)
Sedangkan memahami al-Quran dan
as-Sunnah sebagimana yang dilakukan oleh para sahabat artinya adalah mengikuti manhaj
dalam memahami keduanya sebagai an-nushus as-syar’iyah. Perintah
mengikuti manhaj dalam memahami al-Quran dan as-Sunnah (al-manhaj fi
fahmi an-nushus as-syar’iyah) sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat
tersebut berasal dari hadis Rasulullah SAW sbb:
عن عرباض بن سارية ، قال : قال رسول
الله صلى الله عليه وسلم : «عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي
وعضوا عليها بالنواجذ »
Sahabat
Irbadh bin Sariyah berkata: Rasulullah SAW bersabda: “kalian agar berpegang
teguh kepada sunnahku dan sunnah al-khulafa ar-rasyidun setelahku”
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ
يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Dari
Abdullah ibnu Mas’ud, Nabi SAW bersabda: “manusia terbaik adalah generasiku,
kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya….”
Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi
menyatakan bahwa generasi terbaik menurut Rasulullah sebagaimana dalam hadisnya
di atas adalah generasi Rasulullah, yakni generasi para sahabat. Hal ini bisa
dipahami karena para sahabat adalah generasi di mana al-Quran diturunkan,
menerima dan memahami aqidah, syariah dan akhlak langsung dari rasulullah SAW. Apa yang belum
jelas pada mereka langsung bisa ditanyakan kepada Rasulullah SAW. Sehingga
keyakinan mereka kokoh tak tergoyahkan dan pemahaman mereka terhadap nushus
syar’iyah otentik karena berasal langsung dari Rasulullah SAW.
Sedangkan
generasi terbaik kedua menurut hadis di atas adalah generasi para tabi’in,
di mana generasi ini belajar dari para sahabat bagaimana cara memahami nash
yang benar sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada mereka.
Sedangkan
generasi terbaik ketiga adalah generasi tabiut tabi’in, di mana pada
generasi inilah cara memahami nash (al-manhaj fi fahmi an-nushus)
sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabat dan kemudian
diajarkan kepada para tabi’in diformulasikan dengan lebih sistematis dalam
berbagai buku. Ketiga generasi ini dalam khazanah Islam sering disebut dengan “as-Salaf
as-Shaleh”.
Dengan
penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa makna dari “ma ana ‘alaihi wa
ashhabi” adalah mengikuti “as-Salaf as-Shaleh”. Yang dimaksudkan
dengan mengikuti “as-Salaf as-Shaleh” di sini bukan semata-mata karena
mereka hidup di zaman-zaman generasi awal Islam, akan tetapi karena mereka
adalah generasi yang paling memahami bagaimana cara memahami nash (al-manhaj
fi fahmi an-nushus) secara benar sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah
kepada mereka.
Cara
memahami nash tersebut telah tersistematisasikan sedemikian rupa oleh para
ulama di masa tabi’ at-tabi’in. Para ulama era tersebut yang telah
melakukan langkah besar mensistematisasi al-manhaj fi fahmi an-nushus
yang terpenting adalah empat imam mazhab, yakni: imam Abu Hanifah, Imam Malik,
Imam Syafi’i, dan imam Ahmad Ibnu Hanbal. Keempat imam mazhab ini yang paling
monumental karya-karyanya sehingga mempunyai banyak pengikut di masa
setelahnya.
Walaupun
demikian, bukan artinya hanya keempat imam mazhab tersebut saja yang menjaga al-manhaj
fi fahmi an-nushus sebagaimana yang diajarkan Rasulullah kepada para
sahabat, ada banyak ulama lainnya yang juga melakukan hal yang sama, akan
tetapi karena apa yang dilakukan oleh empat mazhab ini lebih sistematis dan
terformulasikan secara lebih baik, maka keempat mazhab inilah yang bisa
bertahan pendapatnya hingga sampai saat ini.
Dalam kaitan
ini syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani menyatakan:
ويجب على من لم يكن فيه أهلية الإجتهاد
المطلق أن يقلد في الفروع واحدا من الأئمة الأربعة المشهورين، وهم: الإمام
الشافعي، والإمام أبو حنيفة، والإمام مالك، والإمام أحمد ابن حنبل رضي الله عنهم،
والدليل على ذلك قوله تعالى: فاسئلوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون. فأوجب الله
السؤال على من لم يعلم، ويلزم عليه الأخذ بقول العالم وذلك تقليد له، ولا يجوز
تقليد غير هؤلاء الأربعة من باقي المجتهدين في الفروع، مثل الإمام سفيان الثوري،
وسفيان بن عيينة، وعبد الرحمن بن عمر الأوزعي، ولا يجوز أيضا تقليد واحد من أكابر
الصحابة لأن مذاهبهم لم تضبط ولم تدوّن.
“Wajib bagi orang
yang tidak mmpunyai kompetensi menjadi mujtahid mutlak untuk mengikuti salah
satu dari imam mazhab empat, yakni imam Syafi’i, imam Abu Hanifah, Imam Malik,
dan imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana perintah Allah : “jika kalian tidak tahu
bertanyalah kepada ahlinya”. Allah mewajibkan orang yang tidak tahu untuk
bertanya, dan mengambil pendapat ulama yang lebih ‘alim (taqlid). Dalam hal
ini, terutama dalam masalah furu’, tidak dibenarkan bertaqlid kepada selain
keempat imam mazhab tersebut, misalnya mengikuti pendapat imam Sofyan al-Tsauri,
Sofyan bin Uyainah, dan Abdurrahman bin Umar al-Auza’i, begitu juga bertaqlid
kepada salah satu dari sahabat, dengan alasan karena pendapat (mazhab) mereka
belum tersistematisasi dan tidak terbukukan”.
Dengan penjelasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa “ma ana ‘alaihi wa ashabi” adalah merupakan paradigma
berfikir dalam memahami dalil-dali keagamaan (manhaj al-fikr fi fahmi
an-nushus as-syar’iyah) sebagaimana dikembangkan oleh para sahabat dan
tersistematisasi dalam pendapat imam mazhab empat, yakni : imam
as-Syafi’i, imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan imam Ahmad bin Hanbal radhiallahu
‘anhum ajma’in. Dengan begitu, memahami nash dengan tanpa metodologi
sebagaimana yang dikembangkan oleh as-salaf as-shaleh maka dianggap
batal dan harus ditolak.
Tansiq
al-Harakah Sebagai Cara Mengefektifkan Dakwah
Selain
taswiyah al-manhaj, Ijtima Ulama se-Indonesia ke II tahun 2006 juga
membahas tentang Koordinasi Langkah Strategis dalam Masalah Keagamaan (tansiq
al-harakah). Masalah ini dianggap penting, karena umat Islam yang merupakan
bagian terbesar dari penduduk negeri ini, akan tetapi kepentingan-kepentingan
umat Islam dinomor sekiankan dalam aras pengambilan keputusan di negeri ini.
Jumlah umat Islam yang mayoritas tidak sebanding dengan kondisi dan perannya.
Umat Islam di Indonesia tidak lebih aktsaru fi al-jumlah tapi qalil
fi ad-daurah.
Bahkan
saat ini kepentingan umat Islam dijadikan bulan-bulanan oleh sekelompok orang
yang menginginkan adanya sekularisasi dan liberalisasi di negeri ini. Secara
sistematis kelompok ini membentuk opini publik melalui propaganda di media
massa mendiskreditkan organisasi keagamaan yang konsisten memperjuangkan
tegaknya nilai-nilai syariat Islam di negeri ini, misalnya MUI, NU,
Muhammadiyah, dsb. Dengan dalih Hak Asasi Manusia, kelompok ini menebarkan
kebencian dan fitnah bahwa fatwa-fatwa MUI menjadi penyebab munculnya anarki di
beberapa tempat. Kelompok ini juga tidak kenal lelah menancapkan stigma
negatif, melalui jaringan medianya, terhadap MUI yang dicitrakan bertentangan
dengan HAM.
Kelompok
ini cuma terdiri atas beberapa gelintir orang, akan tetapi karena memiliki
pendanaan yang kuat dan menguasasi jaringan media, maka gerakan yang dilakukan
oleh kelompok ini menjadi lebih sistematis dan efektif. Oleh karenanya, MUI menganggap
penting adanya sebuah gerakan penyadaran di kalangan Umat Islam untuk melakukan
koordinasi dalam mengagendakan setiap gerakan yang dilakukan. Gerakan yang
dilakukan oleh umat saat ini lebih terkesan sporadis dan belum terkoordinasi
dengan baik, sehingga gerakan yang ada tidak efektif. Sungguh benar firman
Allah SWT:
وَأَطِيعُوا
اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan
ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” QS. Al-Anfal:46
Oleh karenanya, MUI menganggap
penting adanya upaya penyadaran di kalangan umat tentang pentingnya melakukan
Koordinasi Langkah Strategis dalam Masalah Keagamaan (tansiq al-harakah), dengan
mengagendakannya dalam Ijtima’ Ulama se-Indonesia ke II tahun 2006. keputusan
ijtima’ tentang hal tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut:
1.
Umat Islam perlu mengefektifkan
gerakan, baik yang sifatnya dakwah Islamiyyah (harakah al-da’wah) maupun
gerakan pembelaan bagi Islam dan umatnya (harakah al-difa’)
2.
Gerakan umat Islam yang efektif itu
adalah gerakan yang bersifat ishlahiyyah, terkoordinasi, tersinergi,
saling mendukung, dan tidak kontra-produktif, serta mengedepankan cara-cara (kaifiyat)
yang damai, santun, dan berkeadaban, sekalipun aktifitas kegiatan
tersebut beragam dan tidak satu model.
3.
Dalam melakukan aktifitas, ormas dan
lembaga keagamaan hendaknya selalu mendasarkan diri di atas prinsip; niat yang
baik, perencanaan yang terpadu, metode keagamaan (manhaj) yang
shahih, serta prinsip kehidupan sosial yang mengedepankan semangat kekeluargaan
(al-ukhuwwah), moderasi (a-tawassuth), keseimbangan (al-tawazun),
dinamis, dan memanfaatkan segala potensi yang ada.
4.
Gerakan keagamaan (harakah diniyyah)
harus mencakup segala bidang, seperti aqidah, syari’ah, akhlak, pendidikan,
ekonomi, sosial, dan budaya.
5.
Untuk tercapainya gerakan yang efektif
tersebut, MUI diharapkan dapat menjalankan fungsi-fungsi koordinasi,
sinkronisasi, dan sinergi sehingga tercapai tujuan gerakan bersama.
Keputusan
tersebut mengamanatkan kepada MUI (tentunya di semua tingkatan) untuk melakukan
koordinasi dan sinergi gerakan yang dilakukan oleh umat. Di MUI pusat, terdapat
sebuah forum yang bernama Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI). Forum tersebut tidak
merupakan bagian struktur MUI, akan tetapi dikoordinasikan oleh komisi Ukhuwah
Islamiyah MUI. Anggota forum tersebut adalah semua ormas Islam yang ada. Dan
forum tersebut dipergunakan untuk merespons gerakan dan aksi umat terhadap
suatu masalah yang membutuhkan adanya koordinasi secara langsung antar komponen
umat Islam.
Materi-materi
yang dikoordinasikan biasanya yang bersifat strategis, misalnya pengawalan
Rancangan Undang-Undang yang dinilai akan merugikan kepentingan umat Islam,
menyikapi kebijakan pemerintah yang dinilai mempunyai dampak negatif terhadap
umat, dan melakukan koordinasi terhadap gerakan membendung gerakan
sekularisasi, liberalisasi, dsb.
Konsep ini
sangat strategis bagi umat Islam yang saat ini kondisinya dinilai
tercerai-berai. Konsep tersebut tidak hendak menyamakan organisasi keagamaan
yang ada menjadi satu warna saja. Tapi lebih pada upaya membangkitkan kesadaran
setiap eksponen masing-masing organisasi keagamaan tentang pentingnya adanya
pembagian peran dan tugas demi tercapainya tujuan bersama, yakni izzul Islam
wal Muslimin. Konsep tersebut tetap memberikan kebebasan bagi setiap
organisasi keagamaan ataupun organisasi politik keislaman untuk menjalankan
visi dan misi masing-masing organisasi, namun dalam tarikan nafas yang sama
juga harus dibarengi dengan membangun koordinasi dengan organisasi keagamaan
atau organisasi politik keislaman lainnya. Sehingga gerakannya bisa terkoordinasi
dengan baik.
Konsep
koordinasi gerakan (tansiq al-harakah) tersebut saya kira juga relevan
untuk dikembangkan dalam bidang dakwah. Sebab ujung tombak untuk melakukan
perubahan kondisi umat menjadi lebih baik adalah melalui aktifitas dakwah.
Tanpa adanya aktifitas dakwah yang terencana dan terkoordinasi secara baik maka
mustahil akan bisa merubah kondisi umat menjadi umat yang berdaya.
Wallahu
A’lam