Minggu, 29 Maret 2026

KHUTBAH IDUL FITRI : MERAIH KEMENANGAN YANG HAKIKI

 Oleh : Ma'arif Fuadi                                                                                                                     
الله اكبر ٩× الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان  الله بكرة وأصيلا لاله إلا الله وحـده ,صد ق وعـده ,ونصرعـبده، واعزجـنـده و هزم الأحزاب وحـده لاله الالله ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. لاله الالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ والإسلام. وصلى الله وسلم عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وحده لا سريك له، الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإحْتِرَامِ أَمَّا بَعْد. فيا عباد اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ و مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Allahu Akbar Allahu Akbar Allah Akbar Walillahil Hamd.
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang diharamkan.

Jamah yang dimuliakan Allah.
Selama satu bulan Ramadhan, Kaum Muslimin memperbanyak ibadah kepada Allah swt. Seperti Tadarus Al-Qur’an, shalat tarawih, berbagi sedekah takjil, shalat berjamaah, dan ibadah-ibadah lainnya. Di penghujung Ramadhan, kita semua bersiap untuk melepas kepergian bulan mulia ini sekaligus bersiap menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri yaitu hari yang agung, hari kembalinya kita kepada fitrah,  dan hari kemenangan. Saat Idul Fitri inilah semua umat Muslim bersukaria merayakan hari kemenangan. Memakai baju baru, menyiapkan aneka kue lebaran untuk menyambut tamu, berkumpul dengan sanak saudara, dan sejumlah momen bahagia lainnya.

Namun, jamaah yang dimuliakan Allah, Apakah yang dimaksud kemenangan di hari raya Idul Fitri itu? Apakah sekadar karena kita telah selesai berpuasa selama satu bulan? Apakah karena kita sudah berhasil menang mengalahkan hawa nafsu di bulan Ramadhan ?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka, mereka itu lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ayat ini menjelaskan bahwa kemenangan sejati menurut Allah swt bukan sekadar berhasil melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh, tetapi kemenangan itu adalah jika setelah melaksanakan ibadah puasa ada tiga unsur melekat pada diri seseorang :
Pertama: Iman
Selama Ramadhan, iman kita dilatih dengan puasa yang penuh keikhlasan, dengan shalat tarawih, dengan membaca Al-Qur’an. Maka orang yang menang adalah orang yang imannya semakin kuat setelah Ramadhan.

Oleh karena itu setelah Ramadhan jangan sampai iman kita kembali lemah. Kita kembali kepada kebiasaan buruk. Amal ibadah kita kembali menurun.

Allah berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.”
(QS. Al-Hijr: 99)

Syekh Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i dalam Kanzun Najāḥ was Surūr mengatakan,

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ

Artinya, “Bukanlah disebut hari raya Idul Fitri bagi orang yang mengenakan pakaian baru. Hari raya Idul Fitri itu sesungguhnya adalah ketika ketaatan seseorang meningkat. Setiap hari ketika seseoran tidak melakukan maksiat, maka hari itu baginya adalah hari raya Idul Fitri” (Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i, Kanzun Najāḥ was Surūr, 2009: h. 263).

Kedua: Hijrah (Perubahan ke arah yang lebih baik)
Hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat, tetapi juga berarti:  berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Untuk bisa hijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiadaan baik maka orang terlebih dahulu harus membersihkan dirinya, oleh karena itu secara filosofis, Inti dari seluruh amaliah Ramadhan yang beragam selama satu bulan penuh adalah membersihkan diri dari dosa, seperti yang diisyaratkan oleh hadits Rasulullah saw.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ماتقدم من ذنبه

Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan landasan keimanan dan hanya mengharap ridha Allah, maka diampuni semua dosanya yang terdahulu. 

Seseorang yang sudah bersih dirinya maka akan mudah berhijrah, menjalankan kebaikan dan tidak akan melakukan kemaksiatan. Itulah mengapa didalam Al-Qur'an disebutkan bahwa tujuan ibadah puasa adalah agar menjadi orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang senantiasa taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah.

Ketiga: Jihad (Bersungguh-sungguh dalam kebaikan).
Jihad di sini berarti bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan itu sudah dilatih dibulan Ramadhan seperti menahan hawa nafsu saat berpuasa, mengeluarkan harta untuk sedekah dan zakat, melawan keinginan untuk bermalas-malasan. Maka orang yang menang adalah orang yang bersungguh-sungguh menjaga amalnya.

Jamaah yang dirahmati Allah,
Dari uraian ini kita memahami bahwa kemenangan Idul Fitri bukan hanya selesai berpuasa, tetapi Iman kita semakin kuat, berhasil berubah menjadi lebih baik dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan. Jika tiga hal ini ada dalam diri kita, maka insyaAllah kita termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan. Namun jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan, maka kita perlu bermuhasabah.

Jamaah sekalian,
Di akhir khutbah ini khatib mengajak marilah kita saling memaafkan, membersihkan hati dari dendam dan mempererat silaturahmi. Karena bagian dari kemenangan adalah memiliki hati yang bersih.

Marilah kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal ibadah kita.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah II

الله اكبر ٩× الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان  الله بكرة وأصيلا اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Senin, 16 Maret 2026

HENDAKNYA IMAM BERHENTI SEJENAK SETELAH MEMBACA ALFAATIHAH

Oleh : KH Abdul Hamid Husain*

Menjadi Imam Sholat berjamaah tidaklah mudah. Ada syarat dan ketentuan yang mesti dipenuhi agar Sholat berjamaah lebih berkualitas. Di antara yang mesti dilakukan oleh Imam adalah:

- Setelah selesai membaca Surah Al Faatihah di Sholat Jahar (Subuh, Maghrib dan Isyaa') Imam harus berhenti sejenak memberi kesempatan para Makmum membaca Al Faatihah juga.

- Para Makmum, saat Imam membaca Alfaatihah Jahran, wajib menyimak, mendengarkan dan menghayati bacaan Imam, TIDAK ikut membaca. 

Setelah Imam selesai membaca Al Fatihah, barulah Makmum membaca Al Faatihah. 

Makanya, Imam harus berhenti sejenak memberi kesempatan Makmum membaca Al Faatihah barulah Imam melanjutkan membaca Surah atau ayat lainnya.

TRUE STORY;

1. Allaah SWT telah Menyatakan, jika mau disayangi Allaah, maka saat Al Quran dibacakan agar disimak, didengarkan dan dihayati:

Allaah SWT Berfirman:

 وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ( الأعراف ٢٠٤)

Arti; "Dan apabila Al Quran dibacakan,  maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan seksama agar kamu mendapat Rahmat Kasih Sayang Allaah". (QS Al A'raaf, surah ke 7, ayat 204, halaman 176)

2. Membaca Al Faatihah, Setiap Ayat nya dijawab oleh Allaah:

Membaca Surah Al Faatihah,  sangat berbeda dengan membaca Surah surah  yang lain. Karena saat kita membaca Al Faatihah, ayat demi ayat, kalimat demi kalimat, dijawab oleh Allaah SWT.  

Seolah kita sedang  BERDIALOG  langsung dengan Allaah SWT. Maka saat membaca Al Faatihah, tidak boleh menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya.

Berhentilah setiap kalimat pada tempatnya yang benar,  karena Allaah sedang menjawab dan tunggu selesai jawaban Allaah. Rasuulullaah SAW bersabda dalam Hadits Qudsi;


قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي  وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي  فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل. (رواه احمد و مسلم عن ابى هريرة)

Arti; Rasuulullaah SAW bersabda bahwa Allaah SWT Berfirman: “Saya membagi Shalat antara diri-Ku dan Hamba-Ku menjadi dua. Untuk Hamba-Ku apa yang ia minta: Apabila hamba-Ku membaca: “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.”Aku Menjawab: “Hamba-Ku memuji-Ku.”Apabila Hamba-Ku membaca: “Ar-Rahmaanir Rahiim.”Aku Menjawab: “Hamba-Ku mengulangi memujiKu.”Apabila hamba-Ku membaca; “Maaliki Yaumid Diin. ”Aku Menjawab; “Hamba-Ku mengagungkan Aku.”  Dalam riwayat lain, Allaah Berfirman: “Hamba-Ku telah pasrahkan,  menyerahkan dan mempercayakan semua urusannya kepada-Ku.” Apabila hamba-Ku membaca; “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.” Aku Menjawab; “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”Apabila hamba-Ku membaca: “Ihdinas-Shiraathal mustaqiim" sampai akhir surah, Allaah Berfirman; “Ini milik Hamba-Ku dan untuk Hamba-Ku sesuai apa yang ia minta.” (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya)


POINTERS:

1. Bacalah Surah Al Faatihah penuh penghayatan. Jangan tergesa gesa. Berhentilah sejenak di setiap penghujung ayat kecuali 2 ayat terakhir. Jika tidak stop sejenak, seolah tidak peduli jawaban Allaah SWT.


2. Berhentilah atau "wuquf"    وقوف   sejenak sbb:

A. Di ujung ayat ke 2:

"Alhamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin" (stop). Di ujung ayat ini, Allaah Menjawab bacaan kita.

B. Di ujung ayat ke 3

"Ar Rahmaanir Rahiim" (stop). Di ujung ayat ini, Allaah menjawab bacaan kita.

C. Di ujung ayat ke 4

"Maaliki Yaumid Diin"(Stop). Di ujung ayat ini, Allaah Menjawab bacaan kita.

D. Di ujung ayat ke 5

"Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin" (stop). Di ujung ayat ini, Allaah Menjawab bacaan kita.

E. Ayat ke 6 dan 7 barulah boleh di sambung tanpa stop, tanpa wuquf,  tanpa berhenti, boleh membaca sambung 2 ayat. Stopnya adalah di ujung ayat ke 7 "Ghoiril maghduubi 'alaihim walad Dhaalliin" (stop). Di ujung ayat ini, Allaah menjawab bacaan kita.

3. Membaca Surah Al Faatihah,  hakekatnya sedang melakukan DIALOG  dengan Allaah SWT. Allaah Membagi bacaan Al Fatihah dalam Sholat menjadi 2 bagian: Setengah untuk Allaah dan setengah untuk Hamba Nya.Setengah untuk Allaah adanya di bagian awal, bentuknya adalah pujian untuk Allaah. Mulai dari ayat, ‘Alhamdulillaahi  Rabbil ‘Aalamiin sampai ‘Maaliki Yaumid Diin.’ Sementara setengahnya untuk Hamba Nya, yaitu Doa memohon petunjuk dan bimbingan.

Ada satu ayat yang dibagi dua, yaitu ayat: 'Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.

Setengah untuk Hamba dan setengahnya untuk Allaah. "Iyyaaka Na’budu", ini untuk Allaah, dan iyyaaka nasta’in, untuk Hamba Nya.

4. Penutup:

Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك 

(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).

"Yaa Allaah Tuhanku,  Bimbinglah kami untuk selalu eling  mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"

__________________________________

* Penulis artikel ini adalah KH Abdul Hamid Husain. Alumnus: Ummul Qura University, Makkah. King Abdulaziz University, Jeddah dan PMD Gontor, Ponorogo. Pengasuh; Alhusniyah Islamic Boarding School: (3 Kampus: PAUD, TK, SD, SMP, SMA, TPQ dan MDTA)


Minggu, 15 Maret 2026

BAGAIMANA NABI SAW MENGAJARKAN CARA MENYEMBUHKAN SAKIT ?

Oleh : KH Abdul Hamid Husain*

Jika sakit lakukanlah RUQYAH yang dicontohkan oleh Nabi Muhammaad SAW ini, yaitu dengan DOA, memohon kesembuhan dari Allaah SWT, karena hanya Allaah Yang Menyembuhkan.

TRUE STORY;

1. Rasuulullaah SAW bersabda mengajarkan cara menyembuhkan sakit yang diderita sbb;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ضع يدك على الذي تألم منه من جسدك وقل: باسم الله ثلاثا. وقل سبع مرات: أعوذ بالله وقدرته من شر ما اجد واحاذر. (رواه مسلم)

Arti: "Letakkanlah tanganmu ke bagian yang engkau rasakan sakit, lalu baca BISMILLAH 3x, kemudian baca "'A'uudzu Billaahi Wa Qudrotihii Min Syarri Maa Ajidu Wa Uhaadzir". 7x. (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Muslim).

POINTERS:

A. Rasuulullah SAW mengajarkan, jika sakit lakukanlah  ini ;

1. Pegang bagian yang dirasa sakit

2. Baca: بسم الله (BISMILLAAH) 3x,  Lanjut Baca : 

اعوذ بالله و قدرته من شر ما أجد و أحاذر

"A'uudzu Billaahi Wa Qudrotihii Min Syarri Maa Ajidu Wa Uhaadzir"  (baca 7 kali)

Arti: "Aku berlindung pada Allaah dengan Taqdir Nya agar aku dijauhkan dan disembuhkan dari penyakit yang saya derita ini dan dari apa apa yang saya khawatirkan".

B. Islam mengajarkan, jika sakit berobatlah kepada ahlinya. 

Yang ahli mengobati dahulu namanya Thabib, sekarang disebut Dokter, bukan ke dukun, apa lagi ke paranormal.

C. Menyembuhkan penyakit dengan cara Nabi diatas, disebut " RUQYAH".

Setelah selesai membaca Doa yang diulang ulang 7 x itu, lanjutkan dengan doa ini; 

اللهم اشفنى شفاءا عاجلا انت الشافى لا شفاء الا شفاؤك

(Allahumma isyfinii syifaan aajilan anta syaafi la syifaan illa syifaauka)

Arti: Yaa Allaah. Tuhanku, sembuhkanlah aku secepatnya. Sungguh,  Engkau Yaa Allaah, Tuhan Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali hanya kesembuhan dari Mu Yaa Allaah.

D. Setiap akan berdoa, awali dengan kalimat ISTIGHFAR 3x

استغفر الله العظيم وأتوب اليه

"Astaghfirullaahal 'adziim wa atuubu ilaiih"

Arti: Aku mohon ampun dan bertaubat pada Allaah, Tuhan Yang Maha Agung.

Dan tutuplah setiap doa dengan bershalawat:

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه اجمعين والحمد لله رب العالمين

"Wa shallallaahu 'alaa Sayyidina Muhammad wa 'alaa aalihii wa ashaabihii ajma'iin, wal hamdu lillaahi Rabbil 'Aalamiin"

Penutup:

Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك 

(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).

"Yaa Allaah Tuhanku,  Bimbinglah kami untuk selalu eling  mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"

________________________________

* Penulis adalah alumnus:

-Ummul Qura University, Makkah.

-King Abdulaziz University, Jeddah.

-PMD Gontor, Ponorogo.


Sabtu, 14 Maret 2026

KHUTBAH JUM'AT : DUA HAL MENENTUKAN BAGI KEBAIKAN MANUSIA

Oleh: Alif Budi Luhur  

Khutbah I   

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيْمُ الْغَفُوْرُ. . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الْهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ اَمَّا بَعْدُ، فَيَآ اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ    فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون 

Dalam kitab an-Nawâdir, Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi menyuguhkan sebuah renungan dalam kisah Luqman an-Naubi al-Hakim bin Anqa’ bin Baruq. Ia adalah penduduk asli Ailah, sebuah kota Islam kuno yang sekarang masuk kota bernama Aqaba, sebelah selatan Yordania, dekat perbatasan Israel. Cerita dimulai ketika Luqman al-Hakim menerima seekor kambing dari tuannya. Sang tuan meminta Luqman menyembelih kambing tersebut dan mengantarkan bagian paling buruk, paling kotor, dari tubuh kambing itu. Ya. Luqman menggorok leher kambing, mengulitinya, dan mengiris-irisnya sesuai kebutuhan. Ia pun secara khusus mengambil bagian lidah dan hati kambing lalu mengantarkannya kepada sang tuan. Tuannya memberinya kambing lagi. Tugasnya sama: kambing harus menyembelih. Namun kali ini sang tuan menginginkan Luqman membawakannya bagian yang paling bagus, paling menyehatkan. Luqman menjalankan tugasnya lagi dengan baik. Kambing disembelih, lantas dibawakannya lagi bagian lidah dan hati. Luqman menyodorkan hal yang sama untuk dua permintaan yang saling berlawanan. Tuannya pun bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Luqman. Jawab Luqman, “Wahai tuanku, tak ada yang lebih buruk ketimbang lidah dan hati bila keduanya buruk, dan tidak ada yang lebih bagus dari lidah dan hati bila keduanya bagus.” Jama’ah shalat Jumat hadâkumullâh, Kisah ini mengungkap pesan bahwa hal paling krusial dalam hidup ini adalah terjaganya hati dan lidah. Lebih dari sekadar daging fisik, keduanya adalah kiasan dari nurani dan perkataan manusia. Keduanya memberi pengaruh yang amat menentukan bagi orang lain dan lingkungan sekitar, entah dalam wujud yang manfaat atau merugikan. (Baca: Kisah Luqman al-Hakim: Dua Daging Terbaik sekaligus Terburuk) Penjelasan tersebut selaras dengan sabda Nabi bahwa hati merupakan pangkal dari kebaikan seluruh anggota badan. Sebagaimana tertuang dalam hadits: Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,     

أَلَا وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ   

“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599). Hadits ini juga bisa dimaknai secara luas, bukan semata hati atau jantung dalam pengertian fisik. Hati memiliki sifat yang demikian menentukan. Rusaknya hati berakibat pada rusaknya amal-amal kebaikan yang datang dari semua anggota tubuh. Di dalam hati terkandung niat, tujuan, keinginan, dan hal-hal lain yang tak terjangkau secara indrawi. Namun, justru karena tak tampak inilah amal perbuatan menjadi sulit dinilai apakah ia benar-benar baik atau tidak. Sebagai contoh, orang yang demikian gemar mengeluarkan sedekah namun punyak maksud terselubung meraup keuntungan duniawi, entah itu citra sebagai pribadi yang dermawan di mata masyarakat, dukungan politik, atau keinginan untuk menaikkan kelas sosial tertentu. Secara lahiriah, perbuatan sedekah adalah positif, namun karena diiringi dengan getaran hati yang serba pamrih, amalan tersebut bisa jadi tak mengandung pahala apa-apa di sisi Allah. Ini sekadar contoh rusaknya amal akibat rusaknya hati. Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh, Yang kedua adalah pentingnya memperhatikan aktivitas lisan. Ungkapan populer bahwa lidah tak bertulang menggambarkan mudahnya organ tubuh yang satu ini meluncurkan kata-kata, dan sering kali menggelincirkan mereka yang tidak waspada menggunakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:     

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي    لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّم

“Sungguh ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang Allah ridhai, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sungguh ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang Allah murkai, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjerumus ke dalam neraka Jahannam.” [HR al-Bukhâri] Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah, “tidak menganggap penting” itu bisa berarti tidak memikirkan kandungan perkataan, serta dampak, serta risiko yang ditimbulkannya. Ini merupakan peringatan bahwa berbicara bukan semata mengeluar kata-kata tapi juga merupakan proses berpikir dan menimbang-nimbang. Ketika proses tersebut tidak dilalui maka hal terbaik yang dilakukan manusia adalah diam.     

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ 

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR Bukhari] Menarik ketika kita perhatikan hadits ini. Rasulullah menggunakan “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir” untuk memulai pesan agar manusia berkata yang baik. Hal ini menunjukkan betapa vitalnya lisan hingga ia dikaitkan dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Seolah-olah orang yang tidak berkata baik adalah orang-orang yang tidak sadar akan kehadiran Allah dan tidak percaya akan balasan di akhirat kelak atas mulut kotornya itu. Di zaman modern ini perkataan manusia tak hanya keluar melalui lisan tapi juga tulisan yang tersebar di media sosial. Dampaknya pun sama besarnya dengan kat-kata lidah. Melalui media sosial, seseorang bisa menghina, menghujat, menyebar berita bohong, membuka aib orang lain, mengadu domba, memfitnah, atau membualkan sesuatu yang tidak berguna. Dengan demikian, perkataan yang semula dimonopoli lidah kini kita temukan pula diproduksi oleh jari-jari tangan, bahkan dalam persebaran dan jangkauan yang lebih luas. Karena itu, penting pula bagi kita untuk tidak hanya memikirkan apa saja yang hendak kita omongkan tapi juga apa saja yang ingin kita tuliskan. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh, Kalau hati merupakan pangkal dari kebaikan dan keburukan suatu perbuatan maka lidah menjadi pintu keluar paling boros kebaikan dan keburukan itu. Karena itu menjaga hati agar bersih dari niatan buruk merupakan hal yang pokok. Dilanjutkan kemudian untuk mengontrol lidah agar tidak membuat kerugian bagi diri sendiri dan orang lain atau lingkungan di sekitarnya. Semoga kita semua terhindar dari berbagai iktikad dan tindakan buruk dari seluruh anggota badan kita karena sesungguhnya tiap organ yang ada dalam tubuh kita kelak akan dimintai pertangungjawaban. Wallahu a’lam.     

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ    السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II     

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَآ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلَآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

______________________________

Sumber: https://nu.or.id/


Jumat, 13 Maret 2026

JANGAN HANGUSKAN PAHALA PUASA


Oleh: KH Abdul Hamid Husain*

Seperti EMBER BOCOR, tidak dapat menampung air, air terus tumpah.

Sudah capek berlapar lapar puasa, sayang pahalanya tumpah tak tersisa karena yang puasa hanya perut. Padahal, puasa Ramadhan tidak hanya perut, tapi hati, pikiran dan semua raga ikut berpuasa.

TRUE STORY:

1. Mereka yang sudah meninggal dan  berada di Kubur sangat amat mendambakan ingin lagi bisa mengalami bulan Ramadhan walau hanya sehari saja:

تالله لو قيل لأه‍ل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان (من كلمات الامام ابن الجوزى)

Arti: “Demi Allaah, seandainya para penghuni Kubur ditanya: “Apa yang paling mereka inginkan ?”,  "Sungguh, mereka pasti menjawab, bahwa mereka mendambakan bisa berada di bulan Ramadhan walaupun hanya sehari saja” (Al Imam Ibnul Jauzi, Kitab At-Tabshirah 2/78).

2. Jangan Hanya Perut Yang Berpuasa Tetapi Hati, Pikiran,  Pendengaran dan Penglihatan juga harus Berpuasa: Sahabat Jabir Bin Abdillah RA menuturkan:

إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَآثِمِ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ، ولْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً.

Arti; "Apabila engkau berpuasa maka berpuasa pulalah:  pendengaran, penglihatan, dan  lisanmu dari ucapan dusta, bohong dan berbagai kemungkaran lainnya. Dan jauhilah perbuatan zalim terhadap para pekerjamu, pegawaimu, pembantu dan pelayanmu. Menjalankan ibadah puasa wajib untuk selalu bersikap tenang, damai dan tidak tergesa gesa, tidak terburu-buru.  Dan jangan jadikan hari tidak berpuasa sama dengan hari  berpuasamu ". (Mushannaf lbni Abi Syaibah no 8973).

3. Allaah SWT Berfirman Melarang keras Bergunjing,  saling melecehkan, saling olok  dan saling merendahkan;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ (الحجرات. ٤٩ الاية ١١)

Arti: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan perempuan mengolok-olok perempuan lain karena  boleh jadi perempuan yang diolok-olok itu lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok itu. Janganlah kalian  saling mencela, merendahkan, melecehkan dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim". (QS Al Hujuraat, surah ke 49, ayat 11, halaman 516).

POINTERS:

1. Lidah Yang Menggunjing, Membuang Buang Pahala Puasa:

اللِّسَانُ المَشْغُولُ بِالغِيبَةِ غَالِبًا مَا يَنْسَى كَيْفِيَّةَ تَقْيِيمِ نَفْسِهِ

Arti: "Lidah yang sibuk dengan menggunjing, ghiibah, akan lupa bagaimana mengatur dan menyelamatkan dirinya sendiri"

2. Berhenti Menggunjing adalah langkah pertama menuju ketenangan lahir batin yang sejati.

3. Rasuulullaah SAW Bersabda :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ. (رواه احمد)

Arti: "Wahai orang  orang yang Imannya masih sebatas lisannya dan belum masuk ke hati, janganlah kalian menggunjing orang orang Muslim, janganlah kalian mencari cari aib dan kekurangan mereka. Karena siapa yang selalu mencari cari kekurangan dan kesalahan mereka, maka Allaah akan membongkar kesalahannya, serta siapa yang diungkap aibnya oleh Allaah, maka Dia akan memperlihatkannyaaibnya di rumahnya. (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Ahmad).

Penutup: 

Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك 

(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa). "Yaa Allaah Tuhanku,  Bimbinglah kami untuk selalu eling  mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"

____________________________________

* Penulis KH Abdul Hamid Husain adalah Alumnus Ummul Qura University, Makkah, King Abdulaziz University, Jeddah dan PMD Gontor, Ponorogo. dan pengasuh Alhusniyah Islamic Boarding School: (Kampus 1, 2 & 3: PAUD, TK, SD, SMP, SMA, TPQ dan MDTA)

Kamis, 12 Maret 2026

PUASA SATU HARI, TAPI DAPAT PAHALA PULUHAN PUASA


Oleh : KH Abdul Hamid*                                                                                                                       

Ada orang yang berpuasa 1 hari tapi mendapatkan pahala puluhan Puasa. Ini sangat mudah jika mau. Caranya ? Ikuti Anjuran Rasuulullaah SAW sbb.

TRUE STORY:

1. Rasuulullaah SAW Bersabda bahwa orang yang berpuasa dan memberi makan minum untuk berbuka kepada orang yang juga berpuasa, maka Allaah memberikan tambahan pahala untuknya dari pahala semua orang yang ikut berbuka Puasa tanpa mengurangi pahala Puasanya orang yang berbuka itu. 

Pahala tambahan untuk yang menyediakan makanan berbuka Puasa itu, menerima tambahan pahala sebanyak jumlah orang yang ikut berbuka.

Rasuulullaah SAW Bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا . (صحيح رواه  الترمذي )

Artinya: “Siapa yang memberi makanan berbuka Puasa kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala Puasa dari orang orang yang berbuka tanpa mengurangi pahala orang yang berbuka itu sedikitpun.” (Hadits Sahih Riwayah At Tirmizi)

POINTERS:

1. Upayakan bisa memberi minuman dan makanan untuk berbuka Puasa, karena sebanyak yang ikut berbuka, sebanyak itu pulalah tambahan  pahala Puasa yang didapatkan di hari itu.

2. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan Ramadhan, maka manfaatkanlah semaksimal mungkin untuk memperbanyak Puasa dan manasik manasik Ramadhaniyyah lainnya.  Karena di saat yang sama, telah banyaak keluarga, teman, sahabat dan tetangga yang telah meninggal sebelum Ramadhan tiba, sehingga tidak bisa meni'mati indahnya beribadah di bulan Ramadhan.

Mereka yang sudah meninggal dan  berada di Kubur sangat amat mendambakan ingin lagi bisa mengalami bulan Ramadhan walau hanya sehari saja:

تالله لو قيل لأه‍ل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان. (من كلمات الامام ابن الجوزى)

Artinya: “Demi Allaah, seandainya para penghuni Kubur ditanya: “Apa yang paling mereka inginkan”, "Sungguh, mereka menjawab, bahwa mereka mendambakan bisa berada di bulan Ramadhan walau hanya sehari saja”. (Al Imam Ibnul Jauzi, Kitab At-Tabshirah 2/78).

Penutup:

Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك 

(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).

"Yaa Allaah Tuhanku,  Bimbinglah kami untuk selalu eling  mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"

________________________________________

* Penulis adalah Alumnus:

-Ummul Qura University, Makkah.

-King Abdulaziz University, Jeddah.

-PMD Gontor, Ponorogo

Rabu, 11 Maret 2026

ISLAM MELARANG TIDUR TENGKURAP

Oleh KH Abdul Hamid*

Tidur posisi tengkurap adalah tidur yang dimurkai Allaah SWT. Tidak hanya dimurkai Allaah SWT, terbukti oleh ilmu Medis, bahwa tidur tengkurap berbahaya bagi kesehatan.

TRUE STORY:

1. Rasuulullaah SAW menegur orang yang tidur tengkurap;

عن يعيش ابن طخفة الغفاري رضي الله عنه قال: قال أبي بينما أنا مضطجع في المسجد على بطني إذا رجل يحركني برجله فقال: ” إن هذه ضجعة يبغضها الله”  قال فنظرت فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم

Artinya: Ya’isy Bin Thikhfah Al-Ghifari menuturkan bahwa: “Ayahnya mengisahkan bahwa saat ia tertidur di Masjid dengan posisi tengkurap, tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakinya dan berkata, “Sungguh, tidur yang seperti ini dimurkai Allaah.” Ternyata yang menegur itu adalah Rasuulullaah SAW". (Hadits Sahih Riwayah Abu Dawud diperkuat oleh Al Albani dalam Takhriij Misykaatul Masaabiih 4718).

2. Hadits Nabi SAW Menegaskan bahwa tidur tengkurap adalah gaya tidurnya penghuni Neraka:

إنما هي ضجعة أهل النار

Artinya: “Berbaring tengkurap adalah cara berbaringnya penghuni Neraka” (Hadits Sahih Riwayah Ibnu Maajah).

3. Jumhur Ulama bersepakat bahwa tidur tengkurap hukumnya MAKRUH yaitu sesuatu yang dibenci. Sebagai mana ditegaskan oleh Al Imam At Tirmidzi Rahimahullaah dalam Sunannya:

باب ما جاء في كراهية الاضطجاع على البطن

“Bab Makruhnya tidur tengkurap berdasarkan Hadits Rasuulullaah SAW sbb:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلاً مضطجعاً على بطنه، فقال ” إن هذا ضجعة لا يحبها الله”

Artinya: Abu Hurairah RA menuturkan bahwa saat Rasuulullaah SAW Melihat seorang Laki-laki Muslim tidur tengkurap, Rasuulullaah SAW Bersabda: “Ini adalah cara tidur yang TIDAK  disukai Allaah". (Hadits Sahih Riwayah At Tirmidzi 2789).

 POINTERS:

1. Bahaya kesehatan tidur dengan cara Tengkurap; Ulama terkemuka yang juga pakar kedokteran,  Al Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullaah menegaskan:

وكثرة النوم على الجانب الأيسر مضر بالقلب بسبب ميل الأعضاء إليه، فتنصب إليه المواد. وأردأ النوم على الظهر، ولا يضر الاستلقاء عليه للراحة من غير نوم، وأردأ منه أن ينام منبطحاً على وجهه

Artinya: “Jika sering tidur dengan sisi KIRI  membahayakan bagi jantung karena  organ yang di dalam tubuh bagian kiri,  menekannya.  Dan cara tidur yang juga berbahaya adalah tidur  terlentang (maka tidurlah miring) tetapi tidak mengapa jika sekedar untuk beristirahat tanpa tidur. Dan yang tidak baik juga adalah cara tidur berbaring dengan muka yaitu tengkurap.” (Kitab Zaadul Ma'aad 4:240-241).

2. Sisi Medis

Tidur tengkurap mengganggu pernapasan, menghambat asupan oksigen, dan menyebabkan tekanan pada tulang belakang dan organ dalam.

3. Mari kita jadikan tidur sebagai ibadah amal soleh dengan cara mengikuti Sunnah Rasul, yaitu:

- tidur miring dengan badan sebelah kanan dibawah. JANGAN tidur miring kiri dibawah,

- berwudhulah sebelum tidur, 

- berdoa saat membaringkan badan,

- jangan tidur tengkurap, karena ini menambah dosa.


4. Penutup:

Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك 

(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).

"Yaa Allaah Tuhanku,  Bimbinglah kami untuk selalu eling  mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"

_______________________________________

* Penulis adalah Alumnus:

-Ummul Qura University, Makkah.

-King Abdulaziz University, Jeddah.

-PMD Gontor, Ponorogo.

PEREDAM STRESS PENGHALAU HALANGAN




Oleh : KH Abdul Hamid*

Hidup ini tidak selalu mulus, terkadang kita mengalami kesulitan, hati galau, stress, pikiran lagi kusut dan cemas.

Jika mengalami ini semua, segera berwudhu dan baca dzikir singkat ini berulang ulang, maka Allaah SWT datang menolong memberi solusi,  Menenangkan dan memberi jalan keluar yang terbaik lagi mudah.

TRUE STORY

Rasuulullaah SAW, bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من اصابه هم او غم او سقم او شدة فقال الله ربى ، لا شريك له"، كشف ذلك عنه
(صحيح الجامع)

Artinya: Siapa yang tertimpa rasa cemas,  khawatir, rasa sakit, perih dan kesempitan hidup, lalu ia rajin mengucapkan "Allaahu Rabbii, Laa Syariika Lahuu", maka Allaah akan menjauhkan dia dari hal hal tersebut". (Hadits Sahih Disepakati oleh semua Perawi Hadits)

Pointers :

1. Biasakan bibir mengucapkan dzikir singkat ini berulang ulang:
الله ربى، لا شريك له

"Allaahu Rabbii, Laa Syariika Lahuu". (Allaah Tuhanku, tidak ada sekutu bagi Nya).

2. Afdolnya di lengkapi dengan Dzikir pendek yang dicontohkan oleh Rasuulullaah SWT sbb ;

Rasulullah SAW  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  : احب الكلام الى الله تعالى اربع  سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر، ولا يضرك بأيهن بدأت. ( متفق عليه ) 

Artinya: "Kalimat yang sangat disukai Allah Ta'ala ada empat, yaitu:
- Subhaanallaahi (Maha Suci Allah).
- Walhamdu lillaahi (Segala puja puji hanya kepada Allaah).
- Walaa ilaaha  illallaah (Tiada Tuhan selain Allaah).
- Wallaahu Akbar (Allah Maha Besar).
Dan tidak mengapa, kalimat mana saja yang Engkau dahulukan mengucapkannya".
(Hadits Sahih Muttafaqun 'alaihi).

Penutup:

Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:

                                                                                                        اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك 

(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).

"Yaa Allaah Tuhanku,  Bimbinglah kami untuk selalu eling  mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"

_______________________________________

* Penulis adalah Alumnus:
-Ummul Qura University, Makkah.
-King Abdulaziz University, Jeddah.
-PMD Gontor, Ponorogo.


Senin, 02 Maret 2026

HIKMAH PERINGATAN NUZULUL QUR'AN

Oleh : Ma'arif Fuadi

Bulan Ramadan adalah bulan yang berkah sebagaimana sabda Rasululullah saw:

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Artinya : "Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang jahat diikat. Pada bulan itu, Allah memiliki satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang." (HR. Imam Nasai dan Imam Ahmad).

Salah satu keberkahan bulan Ramadhan karena Al-Qur'an diturunkan pada bulan Ramadan ini. Sebagaimana Firman Allah swt di dalam surat Al-Baqarah ayat 185:     

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185)

Proses turunnya Al-Qur'an

1. Al-Qur’an Berasal dari Allah SWT
Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukan ciptaan manusia dan bukan karangan Nabi Muhammad saw. Allah berfirman:
وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Artinya: Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (QS. Asy-Syu‘ara: 192)

2. Diturunkan ke Lauhul Mahfuzh
Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, Al-Qur’an telah tertulis di Lauhul Mahfuzh (Kitab yang terjaga). Lauhul Mahfuzh adalah tempat di mana Allah mencatat seluruh ketetapan-Nya, termasuk Al-Qur’an secara lengkap.

3. Diturunkan ke Baitul ‘Izzah di Langit Dunia
Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus (secara utuh) dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.
Proses ini disebut turun sekaligus
إنا أنزلناه في ليلة القدر

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.” 
(QS. Al-Qadr: 1)

4. Diturunkan Secara Bertahap kepada Nabi Muhammad saw
Setelah itu, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril ‘alaihissalam selama kurang lebih 23 tahun, 13 tahun di Makkah, 10 tahun di Madinah. Allah berfirman:

وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا 

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia.” (QS. Al-Isra: 106)

Hikmah diturunkan Al-Qur'an:

Diantara Hikmah diturunkannya Al-Qur'an adalah :

1. Sebagai petunjuk dalam kehidupan manusia

“Hudan linnas.” Petunjuk bagi manusia. Karena Al-Qur'an sebagai kitab petunjuk maka ayat yang pertama yang ditutunkan bukan perintah shalat, bukan puasa, bukan zakat tetapi perintah membaca. Sebagaimana firman Allah swt di dalam surat al-Alaq dari ayat 1-5:

.اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

Ironisnya, kita merayakan Nuzulul Qur’an setiap tahun. Namun apakah Al-Qur’an benar-benar hidup di rumah kita? Ramadan hari ke 17 ini sudah berapa juz Al-Qur'an yang kita baca ? Mushaf ada, tapi jarang dibuka. Ayat dihafal, tapi belum diamalkan. Tilawah ada, tapi tanpa tadabbur.
Rasulullah saw pernah menyampaikan:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا 

Rasulullah saw (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan. (QS. Al-Furqan: 30)

Bagaimana Al-Qur'an akan menjadi petunjuk dalam kehidupan jika Al-Qur'an tidak pernah dibaca bahkan diabaikan. Jangan sampai kita termasuk yang disebut dalam ayat tersebut.

2. Sebagai pembeda antara hak dan batil

Manusia adalah makhluk mulia sepanjang berpegang kepada Alquran.  Hal ini sejalan dengan prinsip dasar Islam. Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (fi ahsani taqwim) dan diberikan akal untuk membedakan mana yang hak dan batil mana yang haram dan mana yang halal. Manusia yang tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam hidupnya maka mereka seperti binatang bahkan lebih rendah dari binatang. Sebagaimana firman Allah

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah] dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah]. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” ( Al-A’raaf : 179 )

Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup adalah jaminan agar tidak tersesat dalam kehidupan dunia dan akhirat.

3. Sebagai Obat dan Rahmat bagi orang beriman

Yang dimaksud obat pada ayat ini yaitu Al-Qur'an dapat mengobati penyakit non medis, utamanya penyakit hati atau kejiwaan seperti keraguan, kekafiran, kemunafikan, kesyirikan, kebodohan, hawa nafsu, dan hati yang gelisah. Al-Qur’an menyingkirkan syubhat dan penyakit hati dengan ilmu yang yakin, nasihat, dan peringatan. Juga bisa menjadi obat bagi penyakit fisik bila dibacakan sebagai ruqyah (doa atau terapi) dengan keyakinan. Misalnya sakit kepala, sengatan binatang, demam, dan lain-lain. Nabi dan sahabat mencontohkan membaca Al-Fatihah atau ayat-ayat tertentu untuk penyembuhan jasmani. Jadi, dalam tradisi Islam, Al-Qur’an dipakai untuk ruqyah dan dipandang menyembuhkan penyakit medis maupun non-medis, asalkan dengan iman dan syarat yang benar.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا 

Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian (QS. Al-Isra: 82).

Galau, Stres, gelisah, cemas, obatnya bukan hanya hiburan, tetapi kembali kepada Al-Qur’an.

Zaman berubah. Teknologi berkembang. Tantangan semakin kompleks, tetapi Al-Qur’an tetap relevan. Al-Qur'an adalah cahaya. Tanpa cahaya, kita berjalan dalam gelap. Dengan cahaya, kita tahu arah. Hari ini kita lebih sering membuka ponsel daripada membuka mushaf. Waktu untuk scrolling media sosial berjam-jam terasa ringan.Tetapi membaca satu juz terasa berat.

Mari kita menghidupkan Al-Qur’an dalam diri dan keluarga kita dengan membacanya setiap hari. Memahami Maknanya. Mengamalkan Isinya. Seperti Jujur dalam berdagang. Amanah dalam bekerja. Santun dalam berbicara. Mengajarkan kepada Keluarga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

 

Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala


Rumah yang dipenuhi bacaan Al-Qur’an akan dipenuhi ketenangan.

Diriwayatkan dari Abi Hurairoh :

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هَانِئٍ، حَدَّثَنَا حَرْبُ بْنُ شَدَّادٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى هُوَ ابْنُ أَبِي كَثِيرٍ، حَدَّثَنِي حَفْصُ بْنُ عِنَانٍ الْحَنَفِيُّ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، كَانَ يَقُولُ: «إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ، وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ، وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ» قال المحقق إسناده صحيح وهو موقوف على أبي هريرة

Muʿādz bin Hāniʾ menceritakan kepada kami, Ḥarb bin Syaddād menceritakan kepada kami, Yaḥyā—yaitu Ibnu Abī Katsīr—menceritakan kepada kami, Hafṣ bin ʿInān al-Ḥanafī menceritakan kepadaku, bahwa Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya rumah akan terasa lapang bagi penghuninya, malaikat-malaikat hadir di dalamnya, setan-setan menjauh, dan kebaikannya melimpah jika di dalamnya dibacakan Al-Qur’an. Sebaliknya, rumah akan terasa sempit bagi penghuninya, malaikat-malaikat menjauh, setan-setan hadir, dan kebaikannya sedikit bila di dalamnya tidak dibacakan Al-Qur’an.” Al-muḥaqqiq (peneliti sanad) menilai sanadnya sahih, namun hadis ini mauqūf (perkataan) Abu Hurairah (bukan langsung dari Nabi).

Semoga peringatan Nuzulul Qur’an ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, penawar hati, dan sumber rahmat yang benar-benar hidup dalam keseharian kita. 

Semakin kita menyadari betapa pentingnya Al-Qur'an dalam kehidupan kita, semakin tumbuh keinginan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, membacanya setiap hari, memahami maknanya, dan mengamalkannya serta menjadikannya teman setia dalam kehidupan di dunia.

Kamis, 26 Februari 2026

Tafsir Surat Al Baqarah 183: “Berpuasa Menggapai Takwa”

Oleh : Yulian Purnama, S.Kom

Bulan Ramadan adalah bulan Al Qur’an. Semestinya di bulan Al Qur’an ini umat Islam mengencangkan ikat pinggang dan menancap gas untuk lebih bersemangat membaca serta merenungkan isi Al Qur’an Al Karim. Ya, perenungan isi Al Qur’an hendaknya mendapat porsi yang besar dari aktifitas umat muslim di bulan suci ini. Mengingat hanya dengan inilah umat Islam dapat mengembalikan peran Al Qur’an sebagai pedoman hidup dan panduan menuju jalan yang benar.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185)

Usaha yang mulia ini bisa dimulai dari sebuah ayat yang sering dibacakan, dikumandangkan, bahkan dihafal oleh kaum muslimin, yaitu surat Al Baqarah ayat 183, yang membahas tentang ibadah puasa. Ayat yang mulia tersebut berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Ayat ini mengandung banyak pelajaran berharga berkaitan dengan ibadah puasa. Mari kita kupas hikmah yang mendalam dibalik ayat yang mulia ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman”

Dari lafadz ini diketahui bahwa ayat ini madaniyyah atau diturunkan di Madinah (setelah hijrah, pen), sedangkan yang diawali dengan yaa ayyuhan naas, atau yaa bani adam, adalah ayat makkiyyah atau diturunkan di Mekah[1].

Imam Ath Thabari menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah : “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya”[2]. Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: “Firman Allah Ta’ala ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa”[3].

Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah Ta’ala memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman, dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Dan puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.
Lalu, apakah iman itu? Iman secara bahasa artinya percaya atau membenarkan. Sebagaimana dalam ayat Al Qur’an:

وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (QS. Yusuf: 17)

Secara gamblang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan makna iman dalam sebuah hadits:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

Iman adalah engkau mengimani Allah, mengimani Malaikat-Nya, mengimani Kitab-kitab-Nya, mengimani para Rasul-Nya, mengimani hari kiamat, mengimani qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk[4]

Demikianlah enam poin yang harus dimiliki oleh orang yang mengaku beriman. Maka orang enggan mempersembahkan ibadah kepada Allah semata, atau menyembah sesembahan lain selain Allah, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. Orang yang enggan mengimana Muhammad adalah Rasulullah atau meninggalkan sunnahnya, mengada-adakan ibadah yang tidak beliau tuntunkan, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. Orang yang tidak percaya adanya Malaikat, tidak percaya datangnya kiamat, tidak percaya takdir, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya.
Namun jangan anda mengira bahwa iman itu sekedar percaya di dalam hati. Imam Asy Syafi’i menjelaskan:

وكان الإجماع من الصحابة والتابعين من بعدهم ممن أدركناهم أن الإيمان قول وعمل ونية ، لا يجزئ واحد من الثلاثة بالآخر

Setahu saya, telah menjadi ijma para sahabat serta para tabi’in bahwa iman itu berupa perkataan, perbuatan, dan niat (perbuatan hati), jangan mengurangi salah satu pun dari tiga hal ini[5].

Dengan demikian tidak dapat dibenarkan orang yang mengaku beriman namun enggan melaksanakan shalat, enggan membayar zakat, dan amalan-amalan lahiriah lainnya. Atau wanita yang mengatakan “Walau saya tidak berjilbab, yang penting hati saya berjilbab”. Jika imannya benar, tentu hati yang ‘berjilbab’ akan ditunjukkan juga secara lahiriah, yaitu memakai jilbab dan busana muslimah dengan benar. Oleh karena itu pula, puasa sebagai amalan lahiriah merupakan konsekuensi iman.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Telah diwajibkan atas kamu berpuasa”

Al Qurthubi menafsirkan ayat ini: “Sebagaimana Allah Ta’ala telah menyebutkan wajibnya qishash dan wasiat kepada orang-orang yang mukallaf pada ayat sebelumnya, Allah Ta’ala juga menyebutkan kewajiban puasa dan mewajibkannya kepada mereka. Tidak ada perselisihan pendapat mengenai wajibnya”[6].
Namun ketahuilah, di awal perkembangan Islam, puasa belum diwajibkan melainkan hanya dianjurkan. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan (puasa), maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al Baqarah: 184)

Ibnu Katsir menjelaskan dengan panjang lebar tentang masalah ini, kemudian beliau menyatakan: “Kesimpulannya, penghapusan hukum (dianjurkannya puasa) benar adanya bagi orang yang tidak sedang bepergian dan sehat badannya, yaitu dengan diwajibkannya puasa berdasarkan ayat:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Barangsiapa di antara kamu hadir di bulan (Ramadhan) itu, wajib baginya puasa‘ (QS. Al Baqarah: 185)”[7].

Bertahapnya pewajiban ibadah puasa ini berjalan sesuai kondisi aqidah umat Islam ketika itu. Syaikh Ali Hasan Al Halabi –hafizhahullah– menyatakan: “Kewajiban puasa ditunda hingga tahun kedua Hijriah, yaitu ketika para sahabat telah mantap dalam bertauhid dan dalam mengagungkan syiar Islam. Perpindahan hukum ini dilakukan secara bertahap. Karena awalnya mereka diberi pilihan untuk berpuasa atau tidak, namun tetap dianjurkan”[8].

Dari hal ini terdapat sebuah pengajaran berharga bagi kita, bahwa ketaatan seorang hamba kepada Rabb-Nya berbanding lurus dengan sejauh mana ia menerapkan tauhid.

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian”

Imam Al Alusi dalam tafsirnya menjelaskan: “Yang dimaksud dengan ‘orang-orang sebelum kalian’ adalah para Nabi sejak masa Nabi Adam ‘Alaihissalam sampai sekarang, sebagaimana keumuman yang ditunjukkan dengan adanya isim maushul. Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid, yang dimaksud di sini adalah Ahlul Kitab. Menurut Al Hasan, As Suddi, dan As Sya’bi yang dimaksud adalah kaum Nasrani.

Ayat ini menunjukkan adanya penekanan hukum, penambah semangat, serta melegakan hati lawan bicara (yaitu manusia). Karena suatu perkara yang sulit itu jika sudah menjadi hal yang umum dilakukan orang banyak, akan menjadi hal yang biasa saja.
Adapun permisalan puasa umat Muhammad dengan umat sebelumnya, yaitu baik berupa sama-sama wajib hukumnya, atau sama waktu pelaksanaannya, atau juga sama kadarnya”[9].
Beberapa riwayat menyatakan bahwa puasa umat sebelum umat Muhammad adalah disyariatkannya puasa tiga hari setiap bulannya, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya: “Terdapat riwayat dari Muadz, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Atha’, Qatadah, Ad Dhahak bin Mazahim, yang menyatakan bahwa ibadah puasa awalnya hanya diwajibkan selama tiga hari setiap bulannya, kemudian hal itu di-nasakh dengan disyariatkannya puasa Ramadhan. Dalam riwayat tersebut terdapat tambahan bahwa kewajiban puasa tiga hari setiap bulan sudah ada sejak zaman Nabi Nuh hingga akhirnya di-nasakh oleh Allah Ta’ala dengan puasa Ramadhan”[10].
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertaqwa”

Kata la’alla dalam Al Qur’an memiliki beberapa makna, diantaranya ta’lil (alasan) dan tarajji ‘indal mukhathab (harapan dari sisi orang diajak bicara). Dengan makna ta’lil, dapat kita artikan bahwa alasan diwajibkannya puasa adalah agar orang yang berpuasa mencapai derajat taqwa. Dengan makna tarajji, dapat kita artikan bahwa orang yang berpuasa berharap dengan perantaraan puasanya ia dapat menjadi orang yang bertaqwa[11].

Imam At Thabari menafsirkan ayat ini: “Maksudnya adalah agar kalian bertaqwa (menjauhkan diri) dari makan, minum dan berjima’ dengan wanita ketika puasa”[12].
Imam Al Baghawi memperluas tafsiran tersebut dengan penjelasannya: “Maksudnya, mudah-mudahan kalian bertaqwa karena sebab puasa. Karena puasa adalah wasilah menuju taqwa. Sebab puasa dapat menundukkan nafsu dan mengalahkan syahwat. Sebagian ahli tafsir juga menyatakan, maksudnya: agar kalian waspada terhadap syahwat yang muncul dari makanan, minuman dan jima”[13].

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan dengan ringkas: “Maksudnya, agar kalian bertaqwa dari maksiat. Sebab puasa dapat mengalahkan syahwat yang merupakan sumber maksiat”[14].

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah taqwa itu?

Secara bahasa arab, taqwa berasal dari fi’il ittaqa-yattaqi, yang artinya berhati-hati, waspada, takut. Bertaqwa dari maksiat maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Namun secara istilah, definisi taqwa yang terindah adalah yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib Al’Anazi:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah[15].

Demikianlah sifat orang yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa beribadah, bermuamalah, bergaul, mengerjakan kebaikan karena ia teringat dalil yang menjanjikan ganjaran dari Allah Ta’ala, bukan atas dasar ikut-ikutan, tradisi, taklid buta, atau orientasi duniawi. Demikian juga orang bertaqwa senantiasa takut mengerjakan hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, karena ia teringat dalil yang mengancam dengan adzab yang mengerikan. Dari sini kita tahu bahwa ketaqwaan tidak mungkin tercapai tanpa memiliki cahaya Allah, yaitu ilmu terhadap dalil Al Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Jika seseorang memenuhi kriteria ini, layaklah ia menjadi hamba yang mulia di sisinya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)

Setelah mengetahui makna taqwa, simaklah penjelasan indah berikut ini dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya, tentang keterkaitan antara puasa dengan ketaqwaan: “Puasa itu salah satu sebab terbesar menuju ketaqwaan. Karena orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Selain itu, keterkaitan yang lebih luas lagi antara puasa dan ketaqwaan:

• Orang yang berpuasa menjauhkan diri dari yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum jima’ dan semisalnya. Padahal jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada semua itu. Ia meninggalkan semua itu demi mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap pahala dari-Nya. Ini semua merupakan bentuk taqwa’

• Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya, padahal sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya karena sadar bahwa Allah mengawasinya

• Puasa itu mempersempit gerak setan dalam aliran darah manusia, sehingga pengaruh setan melemah. Akibatnya maksiat dapat dikurangi

• Puasa itu secara umum dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan ini merupakan tabiat orang yang bertaqwa

• Dengan puasa, orang kaya merasakan perihnya rasa lapar. Sehingga ia akan lebih peduli kepada orang-orang faqir yang kekurangan. Dan ini juga merupakan tabiat orang yang bertaqwa”[16]

Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.

Sumber : Artikel Muslim.or.id 
 
Catatan kaki:
[1] Lihat Al Itqan Fi Ulumil Qur’an karya Imam As Suyuthi, 55
[2] Jami’ Al Bayan Fii Ta’wiil Al Qur’an, 3/409
[3] Tafsir Qur’an Al Azhim Libni Katsir, 1/497
[4] HR. Muslim no.102, 108
[5] Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, 4/149
[6] Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an, 2/272
[7] Tafsir Qur’an Al Azhim Libni Katsir, 1/500
[8] Shifatu Shaumin Nabi Fii Ramadhan, 1/21
[9] Ruuhul Ma’ani Fii Tafsiir Al Qu’ran Al Azhim, 2/121
[10] Tafsir Qur’an Al Azhim Libni Katsir, 1/497
[11] Lihat Ad Durr Al Masun karya As Samin Al Halabi hal 138, dan Al Itqan Fii Ulumil Qur’an karya As Suyuthi hal 504
[12] Jami’ Al Bayan Fii Ta’wiil Al Qur’an, 3/413
[13] Ma’alim At Tanziil, 1/196
[14] Tafsir Al Jalalain, 1/189
[15] Siyar A’lamin Nubala, 8/175
[16] Taisir Kariimir Rahman, 1/86