Allah berfirman:
“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.”
(QS. Al-Hijr: 99)
Khutbah II
Oleh : KH Abdul Hamid Husain*
Menjadi Imam Sholat berjamaah tidaklah mudah. Ada syarat dan ketentuan yang mesti dipenuhi agar Sholat berjamaah lebih berkualitas. Di antara yang mesti dilakukan oleh Imam adalah:
- Setelah selesai membaca Surah Al Faatihah di Sholat Jahar (Subuh, Maghrib dan Isyaa') Imam harus berhenti sejenak memberi kesempatan para Makmum membaca Al Faatihah juga.
- Para Makmum, saat Imam membaca Alfaatihah Jahran, wajib menyimak, mendengarkan dan menghayati bacaan Imam, TIDAK ikut membaca.
Setelah Imam selesai membaca Al Fatihah, barulah Makmum membaca Al Faatihah.
Makanya, Imam harus berhenti sejenak memberi kesempatan Makmum membaca Al Faatihah barulah Imam melanjutkan membaca Surah atau ayat lainnya.
TRUE STORY;
1. Allaah SWT telah Menyatakan, jika mau disayangi Allaah, maka saat Al Quran dibacakan agar disimak, didengarkan dan dihayati:
Allaah SWT Berfirman:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ( الأعراف ٢٠٤)
Arti; "Dan apabila Al Quran dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan seksama agar kamu mendapat Rahmat Kasih Sayang Allaah". (QS Al A'raaf, surah ke 7, ayat 204, halaman 176)
2. Membaca Al Faatihah, Setiap Ayat nya dijawab oleh Allaah:
Membaca Surah Al Faatihah, sangat berbeda dengan membaca Surah surah yang lain. Karena saat kita membaca Al Faatihah, ayat demi ayat, kalimat demi kalimat, dijawab oleh Allaah SWT.
Seolah kita sedang BERDIALOG langsung dengan Allaah SWT. Maka saat membaca Al Faatihah, tidak boleh menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya.
Berhentilah setiap kalimat pada tempatnya yang benar, karena Allaah sedang menjawab dan tunggu selesai jawaban Allaah. Rasuulullaah SAW bersabda dalam Hadits Qudsi;
قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل. (رواه احمد و مسلم عن ابى هريرة)
Arti; Rasuulullaah SAW bersabda bahwa Allaah SWT Berfirman: “Saya membagi Shalat antara diri-Ku dan Hamba-Ku menjadi dua. Untuk Hamba-Ku apa yang ia minta: Apabila hamba-Ku membaca: “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.”Aku Menjawab: “Hamba-Ku memuji-Ku.”Apabila Hamba-Ku membaca: “Ar-Rahmaanir Rahiim.”Aku Menjawab: “Hamba-Ku mengulangi memujiKu.”Apabila hamba-Ku membaca; “Maaliki Yaumid Diin. ”Aku Menjawab; “Hamba-Ku mengagungkan Aku.” Dalam riwayat lain, Allaah Berfirman: “Hamba-Ku telah pasrahkan, menyerahkan dan mempercayakan semua urusannya kepada-Ku.” Apabila hamba-Ku membaca; “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.” Aku Menjawab; “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”Apabila hamba-Ku membaca: “Ihdinas-Shiraathal mustaqiim" sampai akhir surah, Allaah Berfirman; “Ini milik Hamba-Ku dan untuk Hamba-Ku sesuai apa yang ia minta.” (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya)
POINTERS:
1. Bacalah Surah Al Faatihah penuh penghayatan. Jangan tergesa gesa. Berhentilah sejenak di setiap penghujung ayat kecuali 2 ayat terakhir. Jika tidak stop sejenak, seolah tidak peduli jawaban Allaah SWT.
2. Berhentilah atau "wuquf" وقوف sejenak sbb:
A. Di ujung ayat ke 2:
"Alhamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin" (stop). Di ujung ayat ini, Allaah Menjawab bacaan kita.
B. Di ujung ayat ke 3
"Ar Rahmaanir Rahiim" (stop). Di ujung ayat ini, Allaah menjawab bacaan kita.
C. Di ujung ayat ke 4
"Maaliki Yaumid Diin"(Stop). Di ujung ayat ini, Allaah Menjawab bacaan kita.
D. Di ujung ayat ke 5
"Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin" (stop). Di ujung ayat ini, Allaah Menjawab bacaan kita.
E. Ayat ke 6 dan 7 barulah boleh di sambung tanpa stop, tanpa wuquf, tanpa berhenti, boleh membaca sambung 2 ayat. Stopnya adalah di ujung ayat ke 7 "Ghoiril maghduubi 'alaihim walad Dhaalliin" (stop). Di ujung ayat ini, Allaah menjawab bacaan kita.
3. Membaca Surah Al Faatihah, hakekatnya sedang melakukan DIALOG dengan Allaah SWT. Allaah Membagi bacaan Al Fatihah dalam Sholat menjadi 2 bagian: Setengah untuk Allaah dan setengah untuk Hamba Nya.Setengah untuk Allaah adanya di bagian awal, bentuknya adalah pujian untuk Allaah. Mulai dari ayat, ‘Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin sampai ‘Maaliki Yaumid Diin.’ Sementara setengahnya untuk Hamba Nya, yaitu Doa memohon petunjuk dan bimbingan.
Ada satu ayat yang dibagi dua, yaitu ayat: 'Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.
Setengah untuk Hamba dan setengahnya untuk Allaah. "Iyyaaka Na’budu", ini untuk Allaah, dan iyyaaka nasta’in, untuk Hamba Nya.
4. Penutup:
Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).
"Yaa Allaah Tuhanku, Bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"
__________________________________
* Penulis artikel ini adalah KH Abdul Hamid Husain. Alumnus: Ummul Qura University, Makkah. King Abdulaziz University, Jeddah dan PMD Gontor, Ponorogo. Pengasuh; Alhusniyah Islamic Boarding School: (3 Kampus: PAUD, TK, SD, SMP, SMA, TPQ dan MDTA)
Oleh : KH Abdul Hamid Husain*
Jika sakit lakukanlah RUQYAH yang dicontohkan oleh Nabi Muhammaad SAW ini, yaitu dengan DOA, memohon kesembuhan dari Allaah SWT, karena hanya Allaah Yang Menyembuhkan.
TRUE STORY;
1. Rasuulullaah SAW bersabda mengajarkan cara menyembuhkan sakit yang diderita sbb;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ضع يدك على الذي تألم منه من جسدك وقل: باسم الله ثلاثا. وقل سبع مرات: أعوذ بالله وقدرته من شر ما اجد واحاذر. (رواه مسلم)
Arti: "Letakkanlah tanganmu ke bagian yang engkau rasakan sakit, lalu baca BISMILLAH 3x, kemudian baca "'A'uudzu Billaahi Wa Qudrotihii Min Syarri Maa Ajidu Wa Uhaadzir". 7x. (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Muslim).
POINTERS:
A. Rasuulullah SAW mengajarkan, jika sakit lakukanlah ini ;
1. Pegang bagian yang dirasa sakit
2. Baca: بسم الله (BISMILLAAH) 3x, Lanjut Baca :
اعوذ بالله و قدرته من شر ما أجد و أحاذر
"A'uudzu Billaahi Wa Qudrotihii Min Syarri Maa Ajidu Wa Uhaadzir" (baca 7 kali)
Arti: "Aku berlindung pada Allaah dengan Taqdir Nya agar aku dijauhkan dan disembuhkan dari penyakit yang saya derita ini dan dari apa apa yang saya khawatirkan".
B. Islam mengajarkan, jika sakit berobatlah kepada ahlinya.
Yang ahli mengobati dahulu namanya Thabib, sekarang disebut Dokter, bukan ke dukun, apa lagi ke paranormal.
C. Menyembuhkan penyakit dengan cara Nabi diatas, disebut " RUQYAH".
Setelah selesai membaca Doa yang diulang ulang 7 x itu, lanjutkan dengan doa ini;
اللهم اشفنى شفاءا عاجلا انت الشافى لا شفاء الا شفاؤك
(Allahumma isyfinii syifaan aajilan anta syaafi la syifaan illa syifaauka)
Arti: Yaa Allaah. Tuhanku, sembuhkanlah aku secepatnya. Sungguh, Engkau Yaa Allaah, Tuhan Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali hanya kesembuhan dari Mu Yaa Allaah.
D. Setiap akan berdoa, awali dengan kalimat ISTIGHFAR 3x
استغفر الله العظيم وأتوب اليه
"Astaghfirullaahal 'adziim wa atuubu ilaiih"
Arti: Aku mohon ampun dan bertaubat pada Allaah, Tuhan Yang Maha Agung.
Dan tutuplah setiap doa dengan bershalawat:
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه اجمعين والحمد لله رب العالمين
"Wa shallallaahu 'alaa Sayyidina Muhammad wa 'alaa aalihii wa ashaabihii ajma'iin, wal hamdu lillaahi Rabbil 'Aalamiin"
Penutup:
Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).
"Yaa Allaah Tuhanku, Bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"
________________________________
* Penulis adalah alumnus:
-Ummul Qura University, Makkah.
-King Abdulaziz University, Jeddah.
-PMD Gontor, Ponorogo.
Oleh: Alif Budi Luhur
Khutbah I
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيْمُ الْغَفُوْرُ. . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الْهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ اَمَّا بَعْدُ، فَيَآ اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون
Dalam kitab an-Nawâdir, Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi menyuguhkan sebuah renungan dalam kisah Luqman an-Naubi al-Hakim bin Anqa’ bin Baruq. Ia adalah penduduk asli Ailah, sebuah kota Islam kuno yang sekarang masuk kota bernama Aqaba, sebelah selatan Yordania, dekat perbatasan Israel. Cerita dimulai ketika Luqman al-Hakim menerima seekor kambing dari tuannya. Sang tuan meminta Luqman menyembelih kambing tersebut dan mengantarkan bagian paling buruk, paling kotor, dari tubuh kambing itu. Ya. Luqman menggorok leher kambing, mengulitinya, dan mengiris-irisnya sesuai kebutuhan. Ia pun secara khusus mengambil bagian lidah dan hati kambing lalu mengantarkannya kepada sang tuan. Tuannya memberinya kambing lagi. Tugasnya sama: kambing harus menyembelih. Namun kali ini sang tuan menginginkan Luqman membawakannya bagian yang paling bagus, paling menyehatkan. Luqman menjalankan tugasnya lagi dengan baik. Kambing disembelih, lantas dibawakannya lagi bagian lidah dan hati. Luqman menyodorkan hal yang sama untuk dua permintaan yang saling berlawanan. Tuannya pun bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Luqman. Jawab Luqman, “Wahai tuanku, tak ada yang lebih buruk ketimbang lidah dan hati bila keduanya buruk, dan tidak ada yang lebih bagus dari lidah dan hati bila keduanya bagus.” Jama’ah shalat Jumat hadâkumullâh, Kisah ini mengungkap pesan bahwa hal paling krusial dalam hidup ini adalah terjaganya hati dan lidah. Lebih dari sekadar daging fisik, keduanya adalah kiasan dari nurani dan perkataan manusia. Keduanya memberi pengaruh yang amat menentukan bagi orang lain dan lingkungan sekitar, entah dalam wujud yang manfaat atau merugikan. (Baca: Kisah Luqman al-Hakim: Dua Daging Terbaik sekaligus Terburuk) Penjelasan tersebut selaras dengan sabda Nabi bahwa hati merupakan pangkal dari kebaikan seluruh anggota badan. Sebagaimana tertuang dalam hadits: Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599). Hadits ini juga bisa dimaknai secara luas, bukan semata hati atau jantung dalam pengertian fisik. Hati memiliki sifat yang demikian menentukan. Rusaknya hati berakibat pada rusaknya amal-amal kebaikan yang datang dari semua anggota tubuh. Di dalam hati terkandung niat, tujuan, keinginan, dan hal-hal lain yang tak terjangkau secara indrawi. Namun, justru karena tak tampak inilah amal perbuatan menjadi sulit dinilai apakah ia benar-benar baik atau tidak. Sebagai contoh, orang yang demikian gemar mengeluarkan sedekah namun punyak maksud terselubung meraup keuntungan duniawi, entah itu citra sebagai pribadi yang dermawan di mata masyarakat, dukungan politik, atau keinginan untuk menaikkan kelas sosial tertentu. Secara lahiriah, perbuatan sedekah adalah positif, namun karena diiringi dengan getaran hati yang serba pamrih, amalan tersebut bisa jadi tak mengandung pahala apa-apa di sisi Allah. Ini sekadar contoh rusaknya amal akibat rusaknya hati. Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh, Yang kedua adalah pentingnya memperhatikan aktivitas lisan. Ungkapan populer bahwa lidah tak bertulang menggambarkan mudahnya organ tubuh yang satu ini meluncurkan kata-kata, dan sering kali menggelincirkan mereka yang tidak waspada menggunakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّم
“Sungguh ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang Allah ridhai, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sungguh ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang Allah murkai, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjerumus ke dalam neraka Jahannam.” [HR al-Bukhâri] Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah, “tidak menganggap penting” itu bisa berarti tidak memikirkan kandungan perkataan, serta dampak, serta risiko yang ditimbulkannya. Ini merupakan peringatan bahwa berbicara bukan semata mengeluar kata-kata tapi juga merupakan proses berpikir dan menimbang-nimbang. Ketika proses tersebut tidak dilalui maka hal terbaik yang dilakukan manusia adalah diam.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR Bukhari] Menarik ketika kita perhatikan hadits ini. Rasulullah menggunakan “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir” untuk memulai pesan agar manusia berkata yang baik. Hal ini menunjukkan betapa vitalnya lisan hingga ia dikaitkan dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Seolah-olah orang yang tidak berkata baik adalah orang-orang yang tidak sadar akan kehadiran Allah dan tidak percaya akan balasan di akhirat kelak atas mulut kotornya itu. Di zaman modern ini perkataan manusia tak hanya keluar melalui lisan tapi juga tulisan yang tersebar di media sosial. Dampaknya pun sama besarnya dengan kat-kata lidah. Melalui media sosial, seseorang bisa menghina, menghujat, menyebar berita bohong, membuka aib orang lain, mengadu domba, memfitnah, atau membualkan sesuatu yang tidak berguna. Dengan demikian, perkataan yang semula dimonopoli lidah kini kita temukan pula diproduksi oleh jari-jari tangan, bahkan dalam persebaran dan jangkauan yang lebih luas. Karena itu, penting pula bagi kita untuk tidak hanya memikirkan apa saja yang hendak kita omongkan tapi juga apa saja yang ingin kita tuliskan. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh, Kalau hati merupakan pangkal dari kebaikan dan keburukan suatu perbuatan maka lidah menjadi pintu keluar paling boros kebaikan dan keburukan itu. Karena itu menjaga hati agar bersih dari niatan buruk merupakan hal yang pokok. Dilanjutkan kemudian untuk mengontrol lidah agar tidak membuat kerugian bagi diri sendiri dan orang lain atau lingkungan di sekitarnya. Semoga kita semua terhindar dari berbagai iktikad dan tindakan buruk dari seluruh anggota badan kita karena sesungguhnya tiap organ yang ada dalam tubuh kita kelak akan dimintai pertangungjawaban. Wallahu a’lam.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَآ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلَآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
______________________________
Sumber: https://nu.or.id/Seperti EMBER BOCOR, tidak dapat menampung air, air terus tumpah.
Sudah capek berlapar lapar puasa, sayang pahalanya tumpah tak tersisa karena yang puasa hanya perut. Padahal, puasa Ramadhan tidak hanya perut, tapi hati, pikiran dan semua raga ikut berpuasa.
TRUE STORY:
1. Mereka yang sudah meninggal dan berada di Kubur sangat amat mendambakan ingin lagi bisa mengalami bulan Ramadhan walau hanya sehari saja:
تالله لو قيل لأهل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان (من كلمات الامام ابن الجوزى)
Arti: “Demi Allaah, seandainya para penghuni Kubur ditanya: “Apa yang paling mereka inginkan ?”, "Sungguh, mereka pasti menjawab, bahwa mereka mendambakan bisa berada di bulan Ramadhan walaupun hanya sehari saja” (Al Imam Ibnul Jauzi, Kitab At-Tabshirah 2/78).
2. Jangan Hanya Perut Yang Berpuasa Tetapi Hati, Pikiran, Pendengaran dan Penglihatan juga harus Berpuasa: Sahabat Jabir Bin Abdillah RA menuturkan:
إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَآثِمِ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ، ولْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً.
Arti; "Apabila engkau berpuasa maka berpuasa pulalah: pendengaran, penglihatan, dan lisanmu dari ucapan dusta, bohong dan berbagai kemungkaran lainnya. Dan jauhilah perbuatan zalim terhadap para pekerjamu, pegawaimu, pembantu dan pelayanmu. Menjalankan ibadah puasa wajib untuk selalu bersikap tenang, damai dan tidak tergesa gesa, tidak terburu-buru. Dan jangan jadikan hari tidak berpuasa sama dengan hari berpuasamu ". (Mushannaf lbni Abi Syaibah no 8973).
3. Allaah SWT Berfirman Melarang keras Bergunjing, saling melecehkan, saling olok dan saling merendahkan;
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ (الحجرات. ٤٩ الاية ١١)
Arti: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan perempuan mengolok-olok perempuan lain karena boleh jadi perempuan yang diolok-olok itu lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok itu. Janganlah kalian saling mencela, merendahkan, melecehkan dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim". (QS Al Hujuraat, surah ke 49, ayat 11, halaman 516).
POINTERS:
1. Lidah Yang Menggunjing, Membuang Buang Pahala Puasa:
اللِّسَانُ المَشْغُولُ بِالغِيبَةِ غَالِبًا مَا يَنْسَى كَيْفِيَّةَ تَقْيِيمِ نَفْسِهِ
Arti: "Lidah yang sibuk dengan menggunjing, ghiibah, akan lupa bagaimana mengatur dan menyelamatkan dirinya sendiri"
2. Berhenti Menggunjing adalah langkah pertama menuju ketenangan lahir batin yang sejati.
3. Rasuulullaah SAW Bersabda :
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ. (رواه احمد)
Arti: "Wahai orang orang yang Imannya masih sebatas lisannya dan belum masuk ke hati, janganlah kalian menggunjing orang orang Muslim, janganlah kalian mencari cari aib dan kekurangan mereka. Karena siapa yang selalu mencari cari kekurangan dan kesalahan mereka, maka Allaah akan membongkar kesalahannya, serta siapa yang diungkap aibnya oleh Allaah, maka Dia akan memperlihatkannyaaibnya di rumahnya. (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Ahmad).
Penutup:
Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa). "Yaa Allaah Tuhanku, Bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"
____________________________________
* Penulis KH Abdul Hamid Husain adalah Alumnus Ummul Qura University, Makkah, King Abdulaziz University, Jeddah dan PMD Gontor, Ponorogo. dan pengasuh Alhusniyah Islamic Boarding School: (Kampus 1, 2 & 3: PAUD, TK, SD, SMP, SMA, TPQ dan MDTA)
Ada orang yang berpuasa 1 hari tapi mendapatkan pahala puluhan Puasa. Ini sangat mudah jika mau. Caranya ? Ikuti Anjuran Rasuulullaah SAW sbb.
TRUE STORY:
1. Rasuulullaah SAW Bersabda bahwa orang yang berpuasa dan memberi makan minum untuk berbuka kepada orang yang juga berpuasa, maka Allaah memberikan tambahan pahala untuknya dari pahala semua orang yang ikut berbuka Puasa tanpa mengurangi pahala Puasanya orang yang berbuka itu.
Pahala tambahan untuk yang menyediakan makanan berbuka Puasa itu, menerima tambahan pahala sebanyak jumlah orang yang ikut berbuka.
Rasuulullaah SAW Bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا . (صحيح رواه الترمذي )
Artinya: “Siapa yang memberi makanan berbuka Puasa kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala Puasa dari orang orang yang berbuka tanpa mengurangi pahala orang yang berbuka itu sedikitpun.” (Hadits Sahih Riwayah At Tirmizi)
POINTERS:
1. Upayakan bisa memberi minuman dan makanan untuk berbuka Puasa, karena sebanyak yang ikut berbuka, sebanyak itu pulalah tambahan pahala Puasa yang didapatkan di hari itu.
2. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan Ramadhan, maka manfaatkanlah semaksimal mungkin untuk memperbanyak Puasa dan manasik manasik Ramadhaniyyah lainnya. Karena di saat yang sama, telah banyaak keluarga, teman, sahabat dan tetangga yang telah meninggal sebelum Ramadhan tiba, sehingga tidak bisa meni'mati indahnya beribadah di bulan Ramadhan.
Mereka yang sudah meninggal dan berada di Kubur sangat amat mendambakan ingin lagi bisa mengalami bulan Ramadhan walau hanya sehari saja:
تالله لو قيل لأهل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان. (من كلمات الامام ابن الجوزى)
Artinya: “Demi Allaah, seandainya para penghuni Kubur ditanya: “Apa yang paling mereka inginkan”, "Sungguh, mereka menjawab, bahwa mereka mendambakan bisa berada di bulan Ramadhan walau hanya sehari saja”. (Al Imam Ibnul Jauzi, Kitab At-Tabshirah 2/78).
Penutup:
Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).
"Yaa Allaah Tuhanku, Bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"
________________________________________
* Penulis adalah Alumnus:
-Ummul Qura University, Makkah.
-King Abdulaziz University, Jeddah.
-PMD Gontor, Ponorogo
Oleh KH Abdul Hamid*
Tidur posisi tengkurap adalah tidur yang dimurkai Allaah SWT. Tidak hanya dimurkai Allaah SWT, terbukti oleh ilmu Medis, bahwa tidur tengkurap berbahaya bagi kesehatan.
TRUE STORY:
1. Rasuulullaah SAW menegur orang yang tidur tengkurap;
عن يعيش ابن طخفة الغفاري رضي الله عنه قال: قال أبي بينما أنا مضطجع في المسجد على بطني إذا رجل يحركني برجله فقال: ” إن هذه ضجعة يبغضها الله” قال فنظرت فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم
Artinya: Ya’isy Bin Thikhfah Al-Ghifari menuturkan bahwa: “Ayahnya mengisahkan bahwa saat ia tertidur di Masjid dengan posisi tengkurap, tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakinya dan berkata, “Sungguh, tidur yang seperti ini dimurkai Allaah.” Ternyata yang menegur itu adalah Rasuulullaah SAW". (Hadits Sahih Riwayah Abu Dawud diperkuat oleh Al Albani dalam Takhriij Misykaatul Masaabiih 4718).
2. Hadits Nabi SAW Menegaskan bahwa tidur tengkurap adalah gaya tidurnya penghuni Neraka:
إنما هي ضجعة أهل النار
Artinya: “Berbaring tengkurap adalah cara berbaringnya penghuni Neraka” (Hadits Sahih Riwayah Ibnu Maajah).
3. Jumhur Ulama bersepakat bahwa tidur tengkurap hukumnya MAKRUH yaitu sesuatu yang dibenci. Sebagai mana ditegaskan oleh Al Imam At Tirmidzi Rahimahullaah dalam Sunannya:
باب ما جاء في كراهية الاضطجاع على البطن
“Bab Makruhnya tidur tengkurap berdasarkan Hadits Rasuulullaah SAW sbb:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلاً مضطجعاً على بطنه، فقال ” إن هذا ضجعة لا يحبها الله”
Artinya: Abu Hurairah RA menuturkan bahwa saat Rasuulullaah SAW Melihat seorang Laki-laki Muslim tidur tengkurap, Rasuulullaah SAW Bersabda: “Ini adalah cara tidur yang TIDAK disukai Allaah". (Hadits Sahih Riwayah At Tirmidzi 2789).
POINTERS:
1. Bahaya kesehatan tidur dengan cara Tengkurap; Ulama terkemuka yang juga pakar kedokteran, Al Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullaah menegaskan:
وكثرة النوم على الجانب الأيسر مضر بالقلب بسبب ميل الأعضاء إليه، فتنصب إليه المواد. وأردأ النوم على الظهر، ولا يضر الاستلقاء عليه للراحة من غير نوم، وأردأ منه أن ينام منبطحاً على وجهه
Artinya: “Jika sering tidur dengan sisi KIRI membahayakan bagi jantung karena organ yang di dalam tubuh bagian kiri, menekannya. Dan cara tidur yang juga berbahaya adalah tidur terlentang (maka tidurlah miring) tetapi tidak mengapa jika sekedar untuk beristirahat tanpa tidur. Dan yang tidak baik juga adalah cara tidur berbaring dengan muka yaitu tengkurap.” (Kitab Zaadul Ma'aad 4:240-241).
2. Sisi Medis
Tidur tengkurap mengganggu pernapasan, menghambat asupan oksigen, dan menyebabkan tekanan pada tulang belakang dan organ dalam.
3. Mari kita jadikan tidur sebagai ibadah amal soleh dengan cara mengikuti Sunnah Rasul, yaitu:
- tidur miring dengan badan sebelah kanan dibawah. JANGAN tidur miring kiri dibawah,
- berwudhulah sebelum tidur,
- berdoa saat membaringkan badan,
- jangan tidur tengkurap, karena ini menambah dosa.
4. Penutup:
Mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
(Allaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni 'ibaadatiKa).
"Yaa Allaah Tuhanku, Bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu"
_______________________________________
* Penulis adalah Alumnus:
-Ummul Qura University, Makkah.
-King Abdulaziz University, Jeddah.
-PMD Gontor, Ponorogo.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : احب الكلام الى الله تعالى اربع سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر، ولا يضرك بأيهن بدأت. ( متفق عليه )

Oleh : Ma'arif Fuadi
Bulan Ramadan adalah bulan yang berkah sebagaimana sabda Rasululullah saw:الَّذِي يَقْرَأُ
القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي
يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ
“Orang yang mahir membaca
Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang
terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya
dua pahala”
Oleh : Yulian Purnama, S.Kom